Talkshow
Cermin Diri
Notulensi Cermin Diri, Mei 2007
Tema: Kecerdasan Emosi Muslimah
Pembicara : Fajriati M. Psi
Kecerdasan Emosi sebenarnya bukan suatu bahasan yang asing dalam Islam. Dalam telaah Alquran dan kehidupan Rasulullaah saw. tercantum bagaimana seorang muslim atau muslimah harus bersikap dalam menjalani hidup atau dalam mengelola emosinya.
Apa itu Kecerdasan Emosi?
Menurut Definisi yang dilontarkan oleh dua orang ahli, dalam bukunya mengenai EQ dan IQ?A1995, Daniel Goldman, Kecerdasan Emosi adalah:
1. Kemampuan untuk bisa mengenali emosi diri sendiri.
2. Mengelola dan Mengekspresikan Emosi Diri dengan Tepat.
3. Memotivasi Diri Sendiri
4. Mengenali Emosi Orang lain
5. Membina Hubungan dengan Orang lain.
Sebelumnya sudah banyak kita ketahui penelitian tentang kecerdasan inteletual (IQ). Kecerdasan Intelektual bias diukur, ditunjuk dengan score2 tertentu, apakah tinggi, sedang, jenius, di atas rata2 ataudibawah rata2. Jelas bahwa kecerdasan intelektual yang tinggi berbicara tentang kemampuan minat intelektual yang dapat kita ramalkan. Sedangkan kecerdasan emosi (EQ) yang tinggi; berbicara mengenai tidak mudah takut atau gelisah, mudah bergaul dan jenaka, mampu melibatkan diri dengan orang lain atau dengan permasalahan, tanggung jawab dan simpatik, erat dalam hubungan sosial.
Tidak bisa dipisahkan antara emosi dan rasio, semua bisa berjalan beriringan, ada hubungan intergratif antara IQ da EQ, terutama dalam masalah motivasi/ketekunan. Seringkali pada anak2, IQ superior, harusnya prestasi tinggi, ttp pd kenyataannya IQ tinggi tapi prestasi tdk optimal. Harusnya IQ tinggi prestasi juga optimal. Disinilah EQ berperan. Untuk itu ada suatu kesimpulan bahwa IQ tidak bisa meramalkan kesuksesan seseorang, bahkan EQ lebih bias berperan dlm menentukan kesuksesan seseorang.
Ada lagi yang lebih tinggi pembahasannya yaitu kecerdasan spiritual. Posisinya jauh di atas kecerdasan emosi. Kecerdasan spiritual berbicara tentang ikhlas, ihsan ketika kita beraktivitas sehari-hari.
Kembali ke Kecerdasan Emosi, definisi kecerdasan emosi:
1.Mengenali Emosi Diri Sendiri
Mengenali emosi diri sendiri merupakan syarat utama untuk memahami 4point lainnya. Mengenali emosi diri berarti mewaspadai terhadap suasana hati kita atau terhadap pikiran tentang suasana hati kita sendiri, artinya harus memosisikan diri kita sebagai pengontrol emosi, bukan kita yang dikontrol emosi. Diri kita ada di atas aliran emosi, bukan berada di dalam aliran emosi, sehingga tidak membuat kita terhanyut.
Emosi sudah bisa berkembang sejak anak berusia 2 tahun. Hal yang bisa kita lakukan sebagai ummahat dalam rangka melatih kecerdasan emosi pada anak adalah dengan mulai meningkatkan perbincangan mengenai emosi pada anak, mencoba memperkenalkan emosi yang ada pada anak, atau yang sedang dirasakan anak. Misalnya anak pulang sekolah keliatan sedih, kita Tanya, ?g Adek sedih, adek kecewa, adek lagi senang, "kok tertawa..?", dan sebagainya. Sedih, senang, tertawa, kesal, adalah contoh-contoh emosi yang bias dikenalkan pada anak. Sering-seringlah sejak dini melatih anak untuk bisa mengenali emosinya sendiri, karena hal ini akan berhubungan dengan melatih rangkaian emosi berikutnya.
Jadi kita tidak hanya mengajarkan pada kecerdasan akademis saja (IQ), tapi juga mengenali emosi untuk bisa mengatasi gejolak yang ditimbulkan oleh kesulitan-kesulitan hidup nantinya. Kecerdasan intelektual tidak menjamin seseorang bisa bahaga, atau sukses, apabila tidak bisa mengenali emosi dirinya sendiri.
Banyak contoh anak-anak yang tertutupi kecerdasan intelektualnya karena kecerdasan emosinya tidak bagus. Begitupun pada orang dewasa, misalnya konflik dengan pasangan, atau anak-anak sedang berulah, atau dengan sesame teman akhwat dalam organisai Misalnya besok ada jian, kalau tidak bisa memenej emosi dengan baik, hal-hal tersebut i atas, besar kemungkinan akan mempengaruhi ujian kita. Kalau kita idak waspada, akan masuk ke aliran emosi kita, dan kita bisa terhanyut, sehingga hasilnya tidak akan seoptimal apabila EQ kita sedang baik.
2. Mengelola dan Mengekspresikan Emosi.
Ketika kita mampu mengelola dan mengekspresikan emosi, maka keuntungannya kita akan mampu lebih cepat menguasai perasaan, dan kembali membangkitkan kehidupan emosi yang normal. Contoh ketika orang yang kita cintai dipanggil Allah Swt, reaksi rang akan bereda-beda. Akan berbeda orang yang bisa menguasai emosi dngan orang yang terhanyut, walaupun sama-sama cerdas. Orang yang cepat menguasai perasaan, akan cepat pula bangkit dalam perasaan yang normal. Hal ini akan lebih baik, karena bias kembali dalam menjalani kehidupannya. Berbeda dengan orang yang tidak bisa menguasai emosinya.
Hal yang harus dihindari para ummahat, adalah: emosi berlebihan, meledak tanpa kendali, dan mengabaikan perasaan anak. Seringkali nalar kita kalah oleh perasaan/emosi. Misalnya saat anak ingin membuat surprise, menjelaskan bahwa dia sudah bias melukis/membuat sesuatu. Bisa jadi anak akan mencorat-coret dinding, pintu dsb. Kita akan langsung marah, membentak atau dengan nada tinggi tanpa memberi kesempatan terlebih dahulu, menanyakan mengapa anak berbuat seperti itu, menjelaskan apa maksudnya.
Dalam struktur otak, emosi akan bertindak lebih cepat, dibanding sebelum masuk ke tempat lain yang mengatur bagaimana seseorang harus bertindak.. Akhirnya akan membuat reaksi emosi kita lebih cepat. Hal ini perlu disadari untuk membuat penjagaan atas emosi kita. Jadi dalam mengelola dan mengekspresikan emosi harus faham bahwa setiap tindakan akan ada konsekuensinya. Marah berlebihan atau senang berlebihan, bagaimana konsekuensinya yang akan terjadi pada orang lain juga pada diri kita sendiri.
3. Memotivasi Diri Sendiri
Diharapkan dapat memotivasi diri sendiri untuk dapat bekerja mencapai tujuan. Dalam suatu penelitian pada anak-anak, mereka yang mampu mengendalikan diri, atau bersabar untuk mencapai hasil yang lebih besar, terdapat korelasi dengan kesuksesan anak-anak tersebut di masa depan. Tidak mudah hancur, tidak mudah mengeluh, lebih
rapih, lebih bahagia, lebih bisa berhubungan dengan orang lain, dan sebagainya. Dalam hal pekerjaan pun lebih berprestasi, dan lebih cakap.
4. Mengenali Emosi orang lain.
Ketika kita bias mengenali emosi diri sendiri, insyaAllah kita akan
bisa juga mengenali emosi orang lain. Bisa berempati, bias merasakan
apa yang orang lain rasakan tanpa harus terhanyut. Ini merupakan hal
mendasar dan cukup penting, ketika kita ingin membangun kehidupan
bersosial, bertetangga atau berorganisasi. Juga dalam hubungan suami-
istri..
Emosi jarang terungkap dalam bentuk verbal. Jarang kita lihat orang yang sedang marah bisa mengatakan bahwa saya lagi marah atau lagi senang. Biasanya akan lebih mudah terlihat dari bahasa non-verbal yang mencakup sekitar hampir 90%. Bahasa non-verbal ini juga lebih bisa dipercaya. Ketika kita bisa mengenali emosi orang lain , merupakan modal kita untuk bisa hangat dengan orang lain, lebih peka, dan lebih bias menyesuaikan diri.
Untuk bisa mengenali emosi orang lain, bisa dimulai dengan mencoba sering mengomunikasikan perasaan kita pada anak-anak. Begitu pun sebaliknya. Misalnya beritahukan bahwa kita sedang sedih atau bahagia. Juga tanyakan apakah kakak/adik sedang sedih, sedang gembira?, kenapa sedih,? dan seterusnya.
5. Membina Hubungan dengan Orang Lain.
Jika keempat point di atas sudahbisa dilaksanakan dengan baik, akan lebih mudah untuk point yang terakhir ini yaitu membina hubungan dengan orang lain. Dalam hal ini point terpenting adalah mengajarkan prinsip-prinsip pada anak kita. Jangan takut untuk berbeda, bebeda itu tidak selamanya buruk. Jangan selalu berkorban/mengalah untuk
kepentingan orang lain. Saat besar nanti, jangan mengorbankan prinsip kita hanya untuk menyenangkan orang lain. Misalnya ikut-ikutan merokok, minum-minum, dan lain sebagainya. Ajarkanlah pada anak tentang kejujuran. Utamakan ketulusan, kejujuran pada perasaan diri sendiri, dan pentingnya menghadirkan prinsip "menjadi diri sendiri."
Demikian, jazakillaah khoir kepada semua sahabat yang telah membantu dan ikut berpartisipasi dalam acara Cermin Diri kemarin. Semoga Allah memudahkan kita untuk bisa mengambil banyak ilmu dan hikmah.
notulen: Shinta Agustian
“Biarkan Cinta Mekar Bersemi”
Silaturahim Warga Muslim Jepang
“Biarkan Cinta Mekar Bersemi”
Tokyo, 2 Desember 2006
Alhamdulillah, Fahima bekerjasama dengan KMII-Muslimah Jepang dan FLP wilayah jepang telah menyelenggarakan silaturahim warga muslim jepang pada tanggal 2 Desember 2006 yang lalu. Acara ini dimotori oleh ketua bidang Muslimah KMII Jepang Ibu Robiah Pudjiatmoko, kemudian beliau mengajak Fahima dan FLP Jepang untuk bekerjasama dalam acara ini.
Tujuan dari acara ini adalah :
1. Menjalin tali silaturahim dengan berbagai kalangan masyarakat
2. Memberikan informasi pentingnya keluarga harmonis sebagai kunci kemajuan dan pembangunan bangsa dan negara.
3. Menumbuhkan rasa kasih sayang antar anggota keluarga khususnya dan masyarakat pada umumnya
4. Meningkatkan kerjasama dan menumbuhkan kasih sayang mendalam antara Ayah, ibu, dan anak melalui pentas seni Islam.
5. Mengingatkan kembali kaum muslimin akan tugas mereka membentuk generasi yang tangguh jasmani dan ruhani.
6. meningkatkan kreatifitas keluarga dalam menciptakan keharmonisasian dalam rumah tangga.
7. Wadah sosialisasi anak-anak muslim.
8. Salah satu sarana silaturahim bagi masyarakat muslim Indonesia yang tinggal di Jepang.
Untuk dapat mewujudkan tujuan dari acara tersebut diatas dan dapat merangkul semua kalangan, maka acara ini diberi tema : Biarkan Cinta Mekar Bersemi.
Acara ini dihadiri kurang lebih 160 orang warga muslim Indonesia di Jepang dari berbagai kalangan. Turut hadir pula para tamu undangan, bapak Duta Besar untuk Indonesia di Tokyo, Bapak DR. Jusuf Anwar dan istri, Bapak Iwan Wiranata Atmadja (Deputy Chief of Mission), Bapak Arif Wibowo (Kepala Perwakilan PT. Garuda Indonesia Airways), Bapak Ronny P Yuliantoro (Counsellor), Bapak Husin Bagis (Atase Bidang Peindustrian dan Perdagangan), Bapak Wisnu Prastowo (Atase Bidang Kehutanan), Bapak Pudjiatmoko (Ketua KMII Jepang), Bapak Drs.H.Sumarwoto, M.Sc dan istri (kepala sekolah SRIT) , ibu Rina (staff pengajar SRIT pemandu kesenian murid-murid SRIT), Pak Dani (staff pengajar SRIT pemandu tim gamelan murid-murid SRIT).
Acara ini diselenggarakan dari jam 11.00 pagi sampai dengan jam 16.00 JST. Dengan setting panggung yang bergaya musim gugur di jepang, yang bernuansa oranye momiji, menambah kesan perpaduan antara kesyahduan dan romantis. Begitu juga dengan rangkaian acaranya yang diatur sangat menarik.
Alhamdulillah acara ini dibuka dengan sambutan dari bapak Duta Besar untuk Indonesia di Tokyo, Bapak DR. Jusuf Anwar. Sebelumnya di perdengarkan dahulu musik gamelan yang dibawakan murid SRIT dibawah bimbingan bapak Dani. Setelah sambutan dari Duta besar Indonesia, sambutan kedua oleh Ibu Rieska Oktavia, ketua panitia Silaturahim Warga Muslim Indonesia.
Acara Silaturahim ini juga diisi dengan Talk Show yang dibawakan oleh tiga pembicara yang berkapasitas dibidang psikologis keluarga, yaitu Bapak Adi Junjunan Mustafa (Agar Cinta senantiasa bersemi dalam keluarga), Ibu Yetti dalimi ( Kiat praktis keluarga Harmonis) dan Bapak Nagai Arifin (Berbeda. Bersama. Bahagia. Bagaimana Bisa?) seorang muslim Jepang yang beristrikan muslimah Indonesia. Talkshow ini di moderatori oleh Bapak Ubedillah Badrun.
Selain itu acara silaturahim ini juga dimeriahkan dengan pementasan Busana Muslimah yang diperagakan oleh putra-putri SD SRIT dan tari Aceh dibawah bimbingan ibu Rina, Gamelan jawa yang dibawakan oleh murid SRIT dibawah bimbingan Bapak Dani. Kemudian tak kalah menariknya yaitu pementasan hafalan Al Qur’an anak-anak dari TK Otsuka.
Untuk meramaikan acara, juga tersedia bazar makanan, buku dan lain-lain. Selain disediakan makan siang gratis, panitia juga menyediakan booklet sebagai ”guide book”. Booklet ini memuat deskripsi tentang keseluruhan acara, sisipan materi para pembicara (kecuali materi dari Nagai sensei), profile ketiga organisasi yang terlibat dalam penyelenggarakan acara silaturahim ini dan sponsor acara.
Kata pepatah ”tidak ada gading yang tak retak”. Kesuksesan acara ini adalah semata-mata pertolongan dari Allah kepada hamba-hambaNya yang senantiasa bekerjasama dalam menebar kebaikan. Maka kekurangan yang dirasakan masih ada disana-sini semoga menjadi panduan untuk menuju perbaikan yang lebih baik.
Akhirnya segenap panitia mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam menyukseskan acara ini. Acara ini disponsori oleh Garuda Indonesia (http://www.garuda-indonesia.com/) dan Toko Halal Online Noor House (http://www.noor-house.com/)
Fahima berpartisipasi pada Diskusi Antar Organisasi Kemasyarakatan Indonesia di Jepang
Pada 24 Januari 2010, FAHIMA menghadiri undangan Dialog Antar Organisasi. Acara ini diadakan oleh PPI-Jepang bekerja sama dengan WGTT, bertempat di Nagoya University. Perwakilan FAHIMA di acara itu adalah Sekum FAHIMA, Mbak Hifizah Nur dan Staf bidang Dakwah FAHIMA, Mbak Renny Nurhasanah karena keduanya berdomisili di sekitar kota Nagoya.
Diskusi Antar Organisasi Kemasyarakatan Indonesia di Jepang ini bertema: “Mewujudkan Sinergi dan Meningkatkan Kepekaan untuk Indonesia yang lebih baik”. Acara diawali sambutan dari ketua panitia acara, lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Wakil Duta Besar RI untuk Jepang Bapak Ronni P. Yuliantoro. Beliau mengapresiasi kegiatan dialog lintas organisasi ini untuk menyatukan berbagai elemen bangsa di Jepang sehingga dapat tercapai harmonisasi dan secara keseluruhan keberadaan organisasi masyarakat membawa manfaat yang lebih besar baik bagi bangsa Indonesia maupun bagi hubungan antara Indonesia dan Jepang.
Setelah acara sambutan, dari 8 organisasi kemasyarakatan yang hadir, presentasi perdana organisasi dilakukan oleh PPI Jepang (Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang) oleh Wakil Ketua M. Kunta Biddinika. Organisasi mahasiswa Indonesia dengan basis massa mahasiswa yang besar ini mempunyai motto ”Membuka dunia untuk Indonesia dan membuka Indonesia untuk dunia”. Motto ini direalisasikan dengan membentuk berbagai macam kegiatan kepelayanan melalui 5 bidang : Infokom, Dikbud, Rohani, Sosial, Pelayanan. Ada juga 4 komite : Beasiswa, Kajian strategis, Desa binaan, Pemira. Kegiatan lainnya berupa delegasi PPI Dunia, Asian Youth Network in Japan, dan Redaksi Inovasi Online. Selain ingin membuka wacana terhadap komunitas internasional, organisasi ini bertujuan untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan Indonesia, selain melayani pelajar-pelajar Indonesia di Jepang.
Ketua organisasi IPTIJ (Ikatan Persaudaraan Trainee Indonesia di Jepang), Edi Susilo, memaparkan presentasinya diawali dengan visi misi yakni ”Meningkatkan kualitas trainee dan masyarakat pada umumnya”. Hal ini dilakukan dengan menjalin silaturahmi, mengoptimalkan kegiatan islami, komputer, kewirausahaan, serta meningkatkan profesionalitas. Bidang yang ada di IPTIJ adalah Litbang, IT, Syiar Islam, Kaderisasi, Humas dan Jaringan, Seni dan Olahraga, Wirausaha, Kemuslimahan.
Dalam acara diskusi ini ada keynote speaker yang menarik, dibawakan oleh Dr. Hisanori Kato, senior researcher pada Centre of Asian Studies Jakarta/Dosen Ohtani University, Osaka. Dalam Bahasa Indonesia yang fasih, beliau menjelaskan pengalaman hidupnya selama di Indonesia terkait dengan keprofesionalan sebuah organisasi dan berharap agar acara diskusi antar organsisasi ini dapat membuat sebuah common ground organisasi Indonesia di Jepang agar bisa bersinergi melakukan kiprahnya untuk mencapai tujuan.
Setelah sholat dan makan, acara dilanjutkan dengan presentasi dari ISTECS yang dilakukan oleh ketuanya, yaitu Bapak Khoirul Anwar. Organisasi Institutes of Technology and Science ini memiliki visi Memberdayakan SDM untuk mencerahkan masyarakat menuju komunitas sejahtera berbasis sains dan teknologi. Misinya adalah Menggalakkan kajian sains dan teknologi, Melahirkan para pakar dan tokoh baru di berbagai bidang, dan memberikan solusi tepat guna untuk masyarakat bawah. Program-programnya berupa diskusi sains dan teknologi di milis ISTECS, Penerbitan artikel di Berita-iptek.com, seminar dan konferensi melalui darat atau cyber dan lain-lain.
Setelah itu, presentasi beralih ke PMIJ. PMIJ adalah kependekan dari Persaudaraan Muslim Indonesia Jepang. Oleh ketua PMIJ, Fathuddin, dipaparkan tentang sejarah berdirinya PMIJ, tujuannya, struktur PMIJ, dan program-progam yang diadakan oleh PMIJ. PMIJ adalah salah satu organisasi mahasiswa, terutama yang mengikuti program D3 mombukagakusho (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Jepang) di Jepang. Organisasi ini aktif dibidang dakwah dan pelayanan terhadap mahasiswa Indonesia di Jepang.
Presentasi dilanjutkan oleh KMII (Keluarga Masyarakat Islam Indonesia), yang diwakili oleh kepala sekolah SRIT. Presenter memperkenalkan KMII sebagai salah satu organisasi Islam Indonesia yang besar di Jepang. Kegiatannya ramai diikuti oleh masyarakat Muslim indonesia yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya, terutama di bulan Ramadhan dan hari raya. Kepengurusannya bersifat terbuka, mulai dari staff KBRI, guru-guru Sekolah Rakyat Indonesia Tokyo, pelajar dan ibu Rumah Tangga.
Setelah KMII selesai, presentasi dilanjutkan ke FAHIMA (Forum silaturarim Muslimah). Mbak Vivi dan Mbak Renny mengulas FAHIMA secara umum, mulai dari sejarah berdirinya FAHIMA, Visi, Misi, bidang-bidang yang ada di FAHIMA serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh FAHIMA selama enam tahun terakhir. Topik yang paling banyak menarik minat hadirin ternyata adalah tentang bidang pendidikan, terutama homeschooling dan Sekolah Dasar Jarak Jauh. Hal ini menjadi masukan yang sangat berharga untuk pengurus FAHIMA, agar menggarap program ini dengan lebih serius.
Selanjutnya presentasi dari Sunu Hadi, FLP Jepang. Forum Lingkar Pena Jepang yang berdiri pada tahun 2004 ini adalah cabang dari Organisasi kepenulisan FLP yang ada di Indonesia. Program-programnya adalah seputar peningkatan kualitas kepenulisan bagi para anggotanya melalui milis dan workshop, proyek menulis buku, siaran anak-anak Ciluk Ba, dan Siaran Pelangi Ramadhan.
Presentasi terakhir adalah dari WGTT atau Working Group For Technology Transfer. Organisasi ini bertujuan untuk membantu mendorong proses transfer teknologi melalui program pelatihan wirausaha berbasis teknologi untuk para pekerja, mahasiswa, maupun umum di Jepang. Selain itu juga melakukan survey dan analisa studi untuk memahami problematika proses dan alih teknologi serta membuat media dan melakukan komunikasi dengan para pekerja, mahasiswa, maupun umum di luar negeri yang mempunyai visi sama tentang transfer teknologi.
Acara coffeebreak akhirnya dilewatkan sambil mendengarkan presentasi, karena waktu yang sudah ditetapkan panitia ternyata tidak cukup. Begitu juga sholat Ashr, tidak ada waktu khusus untuk melakukan sholat Ashr, karena waktu untuk meminjam tempat acara sangat terbatas.
Setelah semua presentasi selesai, lalu dimulailah acara dialog bersama antar organisasi. Namun sebelumnya, panitia mempersilahkan tamu-tamu dari 2 organisasi Jepang yang menaruh minat yang besar tentang Indonesia untuk memberikan tanggapan tentang acara ini. Ternyata kedua wakil dari organisasi Jepang itu sangat terkesan dan cukup kaget dengan banyaknya organisasi Indonesia di Jepang ini. Keduanya berharap agar bisa terjalin kerja sama antara organisasi Indonesia dan Jepang untuk memajukan Indonesia.
Lalu dialog organisasi dilanjutkan dengan kesan, pesan dan harapan dari setiap perwakilan organisasi terhadap acara ini. Rata-rata menyambut positif diadakannya acara ini dan berharap dari dialog ini ada hasil yang kongkrit berupa kerja sama antar organisasi yang bermanfaat untuk Indonesia.
Lalu diputuskan untuk mengadakan kegiatan ini secara rutin setiap tahun, dengan satu organsisasi sebagai koordinator dan organisasi lain ikut membantu penyelenggaraannya. Insya Allah tahun depan, acara ini akan dimotori oleh KMII di Tokyo. (*)
Login Form
Pengunjung
Kemarin392
Minggu ini2460
Bulan ini7526
Currently are 25 guests and no members online


