SIM Jepang ku yang Berliku (Cerbung bagian 4)
Aku pun mencoba ujian praktek yang kedua kalinya. Harapan besar muncul kembali untuk segera lulus. Tak tega rasanya meninggalkan ketiga balita beserta suami di rumah selama aku harus ujian.
Ujian kedua, aku jalani berbekal tips dan latihan praktek dari suami. Tapi, ternyata aku masih gagal. Aku mulai putus asa. Tak berharap mendapatkan SIM Jepang dan ingin berhenti mencoba.
Satu bulan aku berusaha tidak mengingat proses ujian SIM. Rasanya sudah kering air mata ini untuk menangisi kegagalan dua kali, ada segudang persiapan besar yang harus dilakukan untuk bisa pergi ujian. Selain biaya ujian, amanah tiga balita dan suami yang sedang kuliah membuatku patah semangat.
Saat menjemur pakaian, tiba-tiba wajah tetangga apartemen sebelah menyapa ramah.
“Hallo Indri-san, genki? Sihat kah?”
“Genki desu.”
Beliau lah yang baru mendapatkan SIM Jepang setelah ujian praktek yang ke-sepuluh. Aku pun bercerita, bahwa aku sedang mengikuti ujian SIM. Tapi sudah putus asa karena dua kali ujian tapi masih gagal. Ia menyarankan agar aku segera mengambil kursus menyetir satu hari. Walau harga mahal tapi banyak ilmu dan tips-tips agar lulus ujian.
Alhamdulillah, akhirnya semangat untuk kembali mencoba ujian muncul lagi. Apalagi jika kuingat bahwa kami sudah berdarah-darah di awal untuk pulang dua kali ke Indonesia gara-gara SIM apakah harus berhenti tengah jalan. Ayo maju Indri! Berulang kali aku menyemangati diri lagi. Aku berunding lagi dengan suami. Menimbang dan menimbang, akhirnya suami menyetujui.
Kelas Menyetir Satu Jam
Kelas menyetir ternyata bisa diambil hari libur. Aku pun bisa agak lega meninggalkan tiga balita dan suami di rumah. Tidak ada rutinitas harus mengejar waktu agar suami bisa segera ke lab mengerjakan tugas harian jurnalnya.
Benar saja, setelah mengikuti kursus menyetir satu hari dengan biaya sekitar 4000yen, aku mendapat banyak ilmu dan tips lulus ujian. Oh..begitu ya seharusnya…Oh…begini salah ya..berulang kali aku mengucapkan hal itu pada pengajar dalam bahasa Jepang. Dia tersenyum dan tersenyum sambil memberikan tips-tips yang lainnya.
Setelah satu bulan aku off dari ujian dan mengambil kelas menyetir satu hari, aku janjian lagi untuk ujian praktek SIM lewat telpon. Dan minggu depan adalah hari ujian berikutnya.
Hari ini masih bulan Februari, udara masih begitu dingin, sekitar 3 sampai 5 derajat. Ujian ketiga, ujian keempat, ujian kelima setelah kelas menyetir ternyata aku masih gagal! Rupanya pemahaman teori harus disertai latihan praktek yang sering.
Aku memang supir baru, masih kurang dari satu tahun. Pegang mobil pun hanya di saat-saat latihan. Tidak ada keberanian menyetir ke jalan raya, padahal SIM Internasional sudah kupegang. Sebenarnya, seskali aku ingin mencoba menyetir ke jalan raya, sekedar untuk berbelanja atau mengantar anak ke youchien, taman kanak-kanak. Tapi, setelah kejadian mobilku terperosok ke dalam selokan saat latihan di sekitar apartemen kampus yang sepi. Gara-gara aku tidak konsen dengan tangisan bayiku. Aku takut. Terlebih lagi setelah ada kejadian teman Indonesia yang ditangkap gara-gara melanggar aturan dan hanya berbekal SIM International, aku semakin tidak berani. Ternyata, SIM Internasional negeri ku pun tidak diakui di negeri ini. Aku semakin bingung bagaimana bisa mempercepat kemampuan menyetir.
Kapankah final ujian datang?
Melangkah ke ujian ke-enam aku enggan seratus persen. Rasanya keshabaran sudah habis, uang pun sudah habis berpuluh-puluh ribu yen, bahkan mungkin ratusan jika dihitung ongkos pulang ke negeriku. Mencoba ikhtiar dengan kelas menyetir satu jam sudah cukup sudah, aku lelah.
Suatu hari seorang tetangga Indonesia, teman dekat kami mengabarkan suaminya
sudah lulus ujian menukar SIM Indonesia ke SIM Jepang hanya dengan satu kali ujian. Aku tercengang dan kaget. Setelah mengobrol panjang lebar dengan istrinya, ternyata suami beliau sudah menyetir dalam hitungan puluhan tahun. Sedangkan aku, barulah dalam hitungan kurang dari tiga bulan.
Aku kembali bersemangat untuk mencoba. Aku berencana akan meminta tolong pada suami temanku untuk mengajarkan menyetir di sekitar kampus. Kami kebetulan tetangga dekat di apartemen kampus. Suami temanku sama-sama sedang menyelesaikan program doktor. Aku pun berlatih berhari-hari pada Pak Nis ditemani anak-anak dan istrinya.
Satu bulan aku menanti jadwal ujian ke-enam. Udara Jepang saat itu sudah mulai hangat. Musim semi sudah berjalan bahkan bunga merah jambu sakura sudah mulai berguguran. Bunga sakura yang hanya muncul di musim semi akan bertahan untuk mekar sempurna paling lama sekitar satu minggu. Karenanya, orang-orang Jepang tidak akan melewatkan saat bunga sakura mekar sempura atau “mankai”. Mereka akan menggelar tikar atau alas plastik dan duduk di bawah pohon sakura hanya untuk makan bersama sambil mengobrol.
Aku masih berjuang untuk mendapatkan SIM Jepang yang dinanti. Jadwal ujian ke-enam sudah ditentukan. Anak-anak kembali kutitip pada suami. Berharap kali ini adalah ujian terakhir. Doa tengah malam, doa ibu bapak di Indonesia, khususnya doa suami tetap kupinta sepanjang saat.
Saat hari ujian, jumlah peserta kulihat cukup banyak. Wajah penguji pun rasanya sudah hapal. Aku mulai mempersiapkan diri dengan membaca kembali rute jalur ujian seperti biasanya. Kali ini aku tidak berputar-putar, cukup dari kejauhan. Beruntung untuk warga asing jalur ujian tidak dirubah di kota Nara ini. Aku bisa menghapal dan sudah semakin hapal karena ini ujian ke-enam kali.
Ujian pun sudah kulalui dengan cukup tenang, walau terlihat wajah gugup yang tidak bisa kusembunyikan. Setelah rute ujian kulalui, seperti biasa diminta menunggu untuk peserta berikutnya, baru penguji akan memberikan hasilnya.
Saat menunggu, perlahan aku mengalunkan lantunan do`a matsurat, dzikir penenang hati yang selama ini menemani. Jantungku tidak lagi berdebar seperti saat ujian pertama, hanya penasaran yang memuncak. Aku yang kurang menyukai waktu-waktu menunggu, membuat semuanya terasa begitu lama. Setelah semua selesai ujian, seluruh peserta dipanggil ke ruangan.
“Indri-san, selamat! Anda dinyatakan lulus, memenuhi syarat dapat SIM –Jepang.”
“A....Arigatou gozaimashita.”
Kuresapi kembali kalimat petugas ini. Rasanya antara percaya dan tidak percaya. Senyumnya yang mengembang membuat aku semakin yakin. Ia mengangguk dan memintaku melakukan proses selanjutnya. "Alhamudillah ya Rabb...Alhamdulillah...."
Aku diminta untuk melakukan pengecekan mata, pemotretan dan juga membayar sejumlah uang untuk mencetak SIM Jepang. Rasanya tak sabar ingin segera mengabarkan berita bahagia ini pada suami tercinta. Berita yang kami nantikan bertahun-tahun.
Saat menunggu di loket antrian pemotretan, tiba-tiba seorang bapak petugas setengah baya menghampiriku sambil tersenyum.
“Indri-san, omedetou ne. Anaknya hari ini tidak dibawa kah?”
“A…arigatou. Oh, anak-anak saya menunggu di rumah.”
Aku kaget dengan sapaan petugas polisi tadi. Rupanya bapak ini memperhatikanku saat ujian sebelumnya. Saat ujian ke sekian kalinya, aku pernah membawa putriku yang baru berusia 2 tahun.
Saat aku harus menyetir, dia kupinta duduk di tempat antrian. Dalam hati, jangan-jangan banyak yang melihatku saat tertunduk dan menangis di pojokan kantor ini untuk meluapkan rasa sedih saat gagal ujian.
Alhamdulillah proses kegagalan sudah kulalui. Alhamdulillah ya Rabb. Kepulanganku kali ini terasa ringan. Berita gembira kusampaikan pada suami lewat telepon genggam. Aku bersyukur dan siap untuk menjalankan amanah berikutnya.
Ternyata, beberapa bulan setelah aku mendapatkan SIM Jepang, ada tugas berat yang harus kulalui berbekal SIM ini. Ya Rabb, apakah aku sanggup?
---bersambung ke bagian 5, terakhir----
-Catatan harian seorang Ibu--
*(Sri Yayu Indriyani adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga putra-putri dan sekarang sedang hamil putra ke empat. Semua putra putrinya lahir di Jepang. Ia memiliki hobi menulis. Beberapa tulisannya sudah dibukukan dalam beberapa buku antologi. Website : www.http://yayujapan.multiply.com/)
Login Form
Pengunjung
Kemarin392
Minggu ini2445
Bulan ini7511
Currently are 24 guests and no members online


