SIM Jepang ku yang Berliku (Cerbung bagian 3)
Oleh : Sri Yayu Indriyani R*
Persiapan Dokumen
Tahun berikutnya aku dan ketiga anak-anak menyempatkan kembali pulang ke Indonesia, akhirnya syarat minimal 90 hari SIM berlaku di Indonesia tercapai. Biaya tiket pesawat dan jerih payah suami menjadi saksi kepulangan kami demi SIM Jepang. Dokumen-dokumen pelengkap pun mulai aku persiapkan. Gaikokujin toroku shoumesyou atau Kartu Tanda Penduduk Jepang, paspor, SIM Indonesia yang sudah diterjemahkan ke bahasa Jepang di KJRI dan uang pendaftaran.
Sebelum ujian, aku harus menelpon ke kantor polisi setempat yang menangaji ujian SIM untuk yoyaku atau janjian. Satu bulan kemudian aku baru diminta datang dengan
membawa persyaratan lengkap. Jika persyaratan lolos seleksi, saat itu pun aku diperbolehkan ujian tulis berbahasa inggris sebanyak sepuluh soal.
Satu bulan kupersiapkan betul untuk latihan soal dari internet. Alhamdulillah banyak situs yang memuat lengkap contoh soal yang sering keluar di ujian tertulis SIM Jepang. Buku-buku tentang aturan dan rambu-rambu dan latihan dari sekolah menyetir tempat suami belajar dulu pun aku lahap sampai habis.
Belajar sesekali diantara rutinitas mengasuh tiga balita menjadi kesibukan tambahan. Walau beberapa teman mengatakan tidak perlu khawatir soal-soal ujian tulis cukup umum dan mudah, tapi aku tidak ingin mengaggap remeh. Aku bertekad tidak mau menyesal di akhir gara-gara meremehkan dan menganggap enteng. Perjuangan mendapat SIM Indonesia saja harus pulang dua kali dengan biaya yang tidak sedikit, apakah aku harus menganggap enteng ujian SIM Jepang yang dikenal ketat dan sulit?.
Pemeriksaan dokumen di kantor polisi sangat menyita waktu. Petugas kesulitan
melihat deretan tanggal tanda kepulangan pada visa di dalam pasporku. Mereka ingin memastikan bahwa syarat minimal 90 hari SIM Indonesia berlaku. Aku bersyukur sudah menuliskannya dalam secarik kertas. Catatan berisi tanggal aku mendapatkan SIM, tanggal pulang dan tanggal aku kembali ke Jepang, lengkap dengan jumlah harinya yang terhitung lebih dari 90 hari. Rupanya Pak Polisi, petugas pengurus SIM menjadi sangat terbantu.
“Bu, boleh kami pinjam kertas ini. Kami akan catat.”
“Silahkan Pak.”
“Terimakasih. Silahkan Ibu menunggu dulu, nanti kami akan panggil.”
Aku diminta menunggu di kursi yang letaknya tak jauh dari meja petugas. Tiba-tiba aku teringat ketiga balita yang seharusnya sudah mulai bangun. Pagi-pagi sekali saat mereka terlelap aku harus mengejar bis menuju kantor ujian SIM. Aku beryukur, tugasku sudah selesai. Pakaian ganti sudah tertata di samping futon, alas tidur khas di Jepang. Sarapan dan makan siang pun sudah kusediakan di atas meja makan.
Suami hari ini pun telah meminta izin ke professornya akan datang terlambat dengan alasan menemani anak-anak sementara aku mengurus SIM. Ia berencana pergi ke kampus setelah aku kembali. Pastinya akan sampai larut malam sebagai penggati datang terlambat. Ah..maafkan Mas, maafkan anak-anak, doakan Ummi yang sedang berjuang.
“Indri-san, silahkan ke meja dua!” panggil seorang petugas dengan suara nyaring.
"Haa...ik." Jawabku tergugup karena kaget dengan suaranya yang telah membuyarkan
lamunan.
“Indri-san, dokumen anda sudah lengkap dan sekarang boleh mengikuti ujian
tertulis.”
“Alhamdulillah…" Ucapku dalam hati. "Sekarang Pak? Di manakah tempatnya?”
“Silahkan anda ke meja seberang sana. Saya akan mengambil soal ujian.”
“Haik, wakarimashita.”
Aku segera menuju tempat yang ditunjuk oleh petugas. Lima menit kemudian petugas penguji datang membawa soal ujian tertutup.
“Silahkan tulis nama lengkap di sini, dan kerjakan dalam waktu 30 menit untuk 10
pertanyaan.”
Aku berusaha menjawab semua pertanyaan dengan benar. Waktu tiga puluh menit tak terasa segera berakhir.
“Bu Indri, waktu sudah habis. Silahkan menunggu kembali, kami akan memeriksa
hasil ujiannya.”
Sepanjang penantian doa terus kulantunkan agar aku dapat lulus dan mengikuti ujian praktek berikutnya.
“Bu Indri, silahkan datang ke meja tiga.”
Aku segera menghampiri petugas di meja tiga dan rasa penasaran semakin memuncak.
“Bagaimana Pak hasilnya?”
“Selamat, anda lulus, hasilnya 90. Seharusnya untuk jawaban nomor tujuh adalah
salah.”
Aku bersyukur dan mendengarkan dengan serius penjelasan dari petugas tentang jawaban yang benar.
“Sekarang anda harus yoyaku, janjian untuk tanggal ujian praktek. Anda akan memilih ujian manual atau otomatis?”
“Saya memilih ujian praktek mobil otomatis Pak.”
“Baiklah, silahkan tentukan tanggal ujiannya.”
Jadwal ujian praktek ternyata hanya pagi mulai jam 9.00. Akhirnya aku mengajukan tanggal ujian minggu depan. Pikirku dengan begini aku dapat segera selesai urusan SIM. Petugas pun setuju karena minggu depan masih kosong. Setelah semua urusan selesai, aku segera menelpon suami untuk menanyakan waktu beliau dan memberitakan kabar bahwa aku lulus ujian tertulis. Alhamdulillah, suami tidak keberatan minggu depan. Ia ada waktu untuk mengasuh anak-anak sampai siang.
Ujian praktek
Sebelum ujian aku sempat latihan praktek bersama suami di sekitar rumah. Dan hari janjian ujian praktek akhirnya tiba. Seperti biasa, sebelum mengejar bis jam enam pagi, aku harus menyiapkan pakaian ganti ketiga balita, sarapan dan makan siang anak-anak plus suami tercinta. Rutinitas sehari-hari kami jadi terbiasa mengikuti kebiasaan penduduk Jepang yang mandi hanya sekali menjelang tidur. Terlebih di musim dingin seperti sekarang. Kaki rasanya enggan untuk menginjak kamar mandi yang membeku. Musim panas, kami bisa mandi lebih dari dua bahkan tiga kali.
Berbalut jaket tebal dan sarung tangan aku menyusuri jalanan menuju halteu yang tertutupi salju tipis dan air embun yang membeku. Kepulan asap dari mulut mengepul mengiringi langkahku yang semakin lama setengah berlari karena lima menit lagi bis akan
tiba. Tiba dalam bis, aku duduk di deretan kursi yang masih kosong. Kubuka tas dan teh hangat dalam termos kubuka perlahan. Kerongkongan yang kering mulai terasa hangat dan lega. Aku mengambil buku latihan menyetir bergambar yang selama sebulan menjadi teman setia menjelang tidur.
Dua jam perjalanan, menggunakan bis, densha dan berjalan kaki. Akhirnya aku tiba di tempat ujian SIM. Segera aku menuju lapangan tempat ujian praktek. Alur-alur jalan yang telah kuhapal dari selembar kertas yang diberikan petugas, kini kususuri satu persatu. Ini adalah salah satu poin penting yang harus dilakukan, hasil diskusi dari teman yang telah lulus. Aku berjalan menyusuri sambil memutar-mutar tangan, seolah-olah saat itu sedang menyetir.
Setiap belokan harus kuingat, karena tanda signal harus segera ditekan beberapa meter sebelum berbelok. Jalanan yang sempit dan penuh belokan, dibuat bak miniatur jalan raya, membuat aku harus berpikir cepat untuk mengubah signal.
Sepuluh menit aku habiskan untuk berputar-putar sepanjang alur jalur tes praktek. Aku menghampiri deretan tempat duduk untuk menunggu panggilan. Ada sekitar lima orang yang akan mengikuti ujian hari ini, dua diantaranya orang asing termasuk aku.
Giliran pertama diberikan pada orang asing dan karena aku yang datang pertama maka memegang nomor urut satu. Kikuk, berdebar, suhu tubuh mulai menaik saat namaku dipanggil.
Aku segera menghampiri mobil untuk ujian, mobil sedan sekelas mobil taxi mewah sudah di depan mata. Sesui dengan petunjuk, aku berputar mengitari mobil untuk memastikan tidak ada anak kecil atau kucing dan hewan-hewan yang akan membahayakan saat mobil akan berjalan. Sebenarnya sudah terlihat dari jauh kondisi aman. Tapi demi lulus, prosedur ini pun harus kulakukan. Bahkan beberapa teman menyarankan kita harus mengecek selintas ke kolong-kolong mobil.
Mesin mobil mulai kunyalakan. Posisi kursi, spion, cermin, tanda gigi dipastikan masih di tanda P telah aku set dengan baik. Petugas kemudian menanyakan nama dan tanggal lahir. Setelah kujawab, petugas meminta mobil dijalankan dan "Bremmm..." Mobil yang kusetir akhirnya berjalan memasuki alur ujian.
Sekitar sepuluh menit aku selesai mengitari jalur ujian. Aku diminta menunggu untuk peserta kedua orang asing selesai ujian untuk mendengarkan hasil ujian. Penantian sepuluh menit yang rasanya setahun bahkan lebih. Kutenangkan hati dengan berdzikir.
Peserta kedua pun selesai, kami diminta masuk ke ruangan kerja petugas.
“Indri-san dan James-kun, anda tidak lulus.”
Deg! Kuresapi lagi kalimat petugas itu. Robbi aku tak kuat mendengarnya. Aku ingin menjerit, tapi aku harus berbesar hati dan siap menghadapi. Mataku sudah berkaca-kaca. Tapi kutahan. Malu lah di depan polisi. Kucoba mengingat ada yang lebih sulit dalam berjuang. Ada teman yang sampai sepuluh kali ujian, baru lulus. Aku menarik nafas. Sabar..sabar…jangan sedih. Berulang kali kuucap dalam hati.
Petugas yang memberi tes menganjurkan aku mengikui kursus satu jam di tempat
yang sama. Aku dinyatakan tidak lulus karena masih kaku dalam menyetir, selain itu beberapa aturan masih dilanggar. Menyalakan signal masih lambat, kecepatan mobil masih terlalu lambat untuk rute tertentu. "Wajar..aku adalah supir baru." ucapku dalam hati sambil menghibur diri.
Aku menggangguk dan mencoba menjadi informasi tentang kelas menyetir satu jam. Setelah aku bertanya ke loket pendaftaran, biayanya sangat mahal. Rasanya aku tidak tega mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk satu jam saja. Aku ingin meminta izin dulu dengan suami. Tapi berat rasanya menelpon dan mengabarkan berita hari ini.
Dalam bimbang aku memutuskan segera pulang ke rumah, bertemu tiga balita dan suami. Air mata di pelupuk rasanya sudah tidak sanggup kubendung. Menyusuri jalan menuju stasiun yang sepi aku tertunduk dan berusaha bersabar. Berulang kali aku merenung. Apa yang sebaiknya kulakukan?
(bersambung ke Cerbung bagian 4)
Catatan :
SIM dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang di JAF (Japan Automobil Foundation), selain di KJRI.
-Catatan harian seorang Ibu-
*(Sri Yayu Indriyani adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga putra-putri dan sekarang sedang hamil putra ke empat. Semua putra putrinya lahir di Jepang. Ia memiliki hobi menulis. Beberapa tulisannya sudah dibukukan dalam beberapa buku antologi. Website : www.http://yayujapan.multiply.com/)
Login Form
Pengunjung
Kemarin392
Minggu ini2444
Bulan ini7510
Currently are 23 guests and no members online


