SIM Jepang ku yang Berliku (Cerbung bagian 2)
Oleh : Sri Yayu Indriyani R.*
Harus Pulang
Untuk mengurus SIM Jepang ini, sebenarnya suami pernah mencoba ujian satu tahun yang lalu. Ia memilih jalur mengambil ujian SIM dari nol. Ia belum memiliki SIM A. Suami mendaftar di salah satu tempat les menyetir di kota Nara dengan biaya 300.000 yen, setara dengan sekitar 30 juta rupiah saat itu. Kursus menyetir dengan bahasa pengantar bahasa Jepang di sela-sela kesibukan kuliah yang menumpuk, aku paham suami sangatlah sibuk. Ujiannya nanti pun dalam bahasa Jepang, yaitu dengan tulisan kanji yang rumit. Kami pernah mendengar di beberapa kota sudah disediakan ujian dalam bahasa Inggris. Namun, sayangnya di kota kami belum ada.
Hanya satu tahun ia diberi kesempatan untuk mencoba terus ujian jika masih gagal. Ujian praktek, alhamdulillah suami lulus dengan sempurna. Tapi ujian tertulis ternyata masih gagal. Ia terus mencoba dan mencoba. Akhirnya batas waktu satu tahun sudah habis. Uang 300.000 yen pun melayang, dan suami sampai saat ini belum mendapatkan SIM Jepang.
Berawal dari kegagalan suami, aku berencana untuk mencoba ujian SIM Jepang. Tentunya jalan kursus tidak kupilih, biaya terlalu mahal untuk kami yang menggantungkan pada beasiswa. Selain itu ada tiga balita yang harus aku asuh. Sudah kutanyakan ke tempat kursus, mereka tidak menyediakan penitipan anak.
Aku mencoba informasi dari beberapa teman melalui e-mail dan milis. Alhamdulillah tersambung dengan seorang sahabat di kota lain yang ternyata dia sudah memiliki SIM Jepang. Ia seorang ibu sama sepertiku dengan tiga orang putra. Ternyata ia mendapat SIM Jepang melalui proses kirikae atau menukar SIM negeriku dengan SIM Jepang. Ini pun harus melewati ujian tertulis dan ujian praktek. Ujian tertulis disediakan dalam bahasa Inggris dan hanya sepuluh soal. “Ini adalah jalan termudah.” Begitulah penuturannya. Walau aku sudah dipesankan untuk siap-siap bersabar menghadapi ujian praktek yang sangat strik dan ketat.
Kupikir ia benar. Jika memilih jalur ujian langsung di Jepang dari nol, aku harus mampu menyelesaikan 100 soal dalam bahasa Jepang seperti suamiku. Kalau berhasil lulus, baru SIM sementara yang didapat, belum 100%. Masih ada ujian praktek dan ujian tulis tahap berikutnya. Bahasa Jepangku masih payah, apalagi harus membaca tulisan-tulisan kanji yang membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Tidak mungkin!
Cara convert SIM atau kirikae adalah pilihan yang paling mungkin. Tapi, masalahnya sampai saat ini aku belum memiliki SIM negeriku. Syaratnya pula SIM yang dapat digunakan untuk menukar adalah SIM yang berlaku di negeri sendiri minimal 90 hari. "Ah..seperti mimpi saja!" Tidak mungkin pulang selama itu sementara suami masih kuliah di sini. Mengatasi biaya hidup sehari-hari kami harus menghemat uang beasiwa yang tidak terlampau banyak, untuk hidup lima orang nyawa.
Kutatap ketiga balitaku yang sedang asyik bermain. Dari merekalah semangatku kembali. Walau berat, berat sekali..kutarik nafas dalam-dalam. Kuyakinkan dalam diri, Allah SWT Maha Mendengar, Maha Kuasa dan tidak mungkin Allah memberikan cobaan di luar kesanggupan makhluk-Nya.
Malam hari, kuceritakan pada suami pilihan menukar SIM adalah cara yang paling realistis. Tak kusangka beliau sangat menyambutnya. “Baiklah kita pikirkan kapan Adik bisa pulang untuk les menyetir dan mendapatkan SIM,” jawab suami sambil kulihat alisnya mengerut semakin dalam.
Suami memutuskan selama aku pulang untuk latihan menyetir dan ujian SIM, ia akan bertahan di Jepang. Pilihan berat untuk berpisah sementara dengan keluarga, tapi jadwal kuliah yang padat tidak bisa ia tinggalkan. Belum lagi deadline menulis jurnal pun sudah mendesak. Ia berjanji akan menjemputku saat akan kembali ke Jepang bersama anak-anak. Ia pun akan mencoba mengikuti kursus dan ujian sepertiku. Kami pun harus siap-siap menahan rindu, lebih berhemat dan prihatin.
Sekolah Mengemudi
Setelah dua hari tiba di negeriku, latihan menyetir pun segera dimulai untuk sepuluh hari. Aku sudah mendaftarkan diri sejak dari Jepang melalui orangtua. Aku ingin waktu pulang menjadi efektif. Hampir setiap hari aku bolak-balik ke tempat les menyetir, sementara tiga balitaku dititip bersama ibu dan bapak.
Satu minggu sudah berlalu, aku diminta datang ke kantor polisi untuk berfoto. Kupikir waktu ujian tiba, ajaib hari itu juga aku mendapat SIM. Walau sejujurnya aku tidak bahagia, karena ujian di Jepang nanti akan jauh lebih berat. Aku belum terlalu pandai menyetir. Sebenarnya aku masih ingin berlatih dan merasakan latihan ujian untuk berikutnya.
Akhirnya jadwal pulang sudah tiba, walaupun belum cukup untuk memenuhi persyaratan minimal 90 hari SIM berlaku. Waktu kursus telah mengurangi jatah itu. Lagipula aku tidak mungkin berlama-lama sementara suami berjuang kuliah sendirian di Jepang.
Sesuai kekhawatiranku, suami akhirnya mengeluh sakit perut tanda terkena penyakit maag. Kesibukannya di lab sering membuatnya lupa makan. Aku merasa bersalah dan ingin segera pulang biarlah latihan dilanjut di Jepang dan kembali lagi di lain waktu ke Indonesia hanya untuk memenuhi syarat dan latihan menyetir seandainya memungkinkan.
-Catatan Harian seorang Ibu-
(Bersambung ke bagian 3)
*(Sri Yayu Indriyani adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga putra-putri dan sekarang sedang hamil putra ke empat. Semua putra putrinya lahir di Jepang. Ia memiliki hobi menulis. Beberapa tulisannya sudah dibukukan dalam beberapa buku antologi. Website : www.http://yayujapan.multiply.com/)
Login Form
Pengunjung
Kemarin392
Minggu ini2444
Bulan ini7510
Currently are 22 guests and no members online


