Menyusuri Jalan Dakwah Sebuah Kota di Jepang


Satu setengah tahun lalu, aku dan keluarga ditakdirkan untuk pindah ke kota Ishikawa. Sebuah kota terindah dan tenang yang pernah kami tempati di Jepang sampai saat ini. Indah, benar-benar membuat mulut ini selalu tergerak untuk berdzikir, tatkala menyusuri sepanjang jalan dari tempat kami tinggal ke supermarket atau mengantar anak-anak sekolah. Gunung menjulang, laut menampakkan diri dari kejauhan, pohon hijau dan sawah terehampar, sementara sungai besar mengalir membelah perbatasan kota Nomi dan kota Tsurugi. Benar-benar sebuah kota yang tenang dan damai. Suatu hari anak kedua menangis tersedu mengadukan apa yang telah terjadi di hoikuen, tempatnya bermain. Pasalnya tatkala semua teman Nihon-jin memakan kue, yang tampak enak di matanya, ia hanya disodorkan sebuah jeruk. Keesokan harinya aku mencoba berdiskusi dengan kepala hoikuen dan bertanya lebih lengkap. Alhasil, semua jenis "oyatsu" yang biasa dimakan anak-anak dikeluarkan dari lemari. Kami survey satu persatu, jika ada kue yang tidak jelas bahannya, segera kutanya lewat telepon kepada pabrik pembuatnya.

Alhamdulillah satu masalah selesai. Putriku tidak menangis lagi, pihak hoikuen mulai mengerti jenis kue yang dapat kami konsumsi, jenis yang halal.

Menjelang akhir tahun, aku dan suami membuat surat tertulis dalam "ochoumen", meminta izin bahwa anak-anak tidak bisa menghadiri acara perayaan bulan Desember di hoikuen. Membaca ochoumen pagi itu, tiba-tiba kepala hoikuen menghentikanku dan mengajak berdiskusi langsung ketika aku mengantar bentou menjelang makan siang untuk anak-anak pagi itu. Tahun lalu kami memang tidak ikut dengan alasan bertepatan dengan sholat Idul Adha. Tahun ini kesempatan kami menjelaskan lebih detail karena waktunya sudah pas. Pihak hoikuen telah mengerti kami, dan kami sudah setahun memahami karakter hoikuen tempat anak kami bermain.

 

Tulisan di "ochoumen" mirip sebuah petisi, karena kami tuliskan hal ini telah disetujui pula oleh Ibu fulanah dari Malaysia, ibu fulanah Mesir dan ibu fulanah dari Bangladesh dan ibu lainnya teman-teman muslim para tetangga kami. Kepala hoikuen penasaran dan ingin bertanya lebih detail, apa maksudnya. Alhamdulillah satu persatu uraian membuat beliau mengangguk-angguk dan mengerti tentang ”budaya” kami. Alhamdulillah akhirnya selesai masalah kedua.

Aku, satu minggu sekali kusempatkan mengikuti sebuah klub ibu-ibu internasional yang dinakhodai oleh para volunter, Ibu-ibu Jepang paruh baya dengan segala aktivitasnya. Seringkali, saat acara makan oyatsu sebagai jeda aktivitas aku selipkan cerita Islam. Satu kali aku dibuat putus asa. Rasanya tidak ada bekas pada mereka. Seakan cerita mengalir begitu saja. Astagfirullah...

Sampai akhirnya aku "curhat" pada mereka tentang makan siang di shougakkou. Bagaimana cara yang sopan untuk meminta pengertian pada pihak "shougakkou" untuk makan siang untuk anak-anak kami? Itulah kira-kira curhatku kepada mereka. Aku cukup kaget ketika salah satu volunter menyarankan, "Tak apalah masih kecil, kecuali jika benar-benar daging." Kucoba jelaskan dengan hormat "Maaf bu, tidak bisa karena setiap makanan akan menjadi darah yang mengalir pada tubuh anakku." Lalu beliau akhirnya mengangguk menyetujui.

Aku sempat putus asa, saat telah mencoba berdiskusi panjang lebar ditemai suami pada seorang guru di Shougakkou. Menjelaskan perihal makanan halal. Juga sempat sedikit bercanda bahwa jika tidak dikasih makanan yang tanpa daging babi, mohon biayanya dikurangi, karena kita tidak makan atau membelinya. Namun, hasilnya masih nihil. Lalu kami juga menyampaikan alasan bahwa jumlah muslimin di kota ini sudah berkembang, tapi tetap saja mereka sulit merealisasikan makanan tanpa daging dan tanpa sake/alkohol. Ya sudah, tidak apa-apa, tahun depan kita coba lagi, pikir kami ketika meninggalkan shougakkou.

Aku bertekad akan berjuang membuat makanan yang persis sama dengan mereka. Ku antar setiap menjelang makan siang, agar makanan masih hangat dan tidak tumpah ke tas anak-anak. Sebulan sebelumnya, jenis makanan yang dapat dikonsumsi kustabilo berwarna dan kuserahkan pada sensei putraku.

"Ya Rabb istiqomahkan kami."
Satu hal lagi ada yang kami harus jalani di sini. Aku mendengar kabar bahwa anak-anak muslim shougakkou tidak sholat dzuhur di shougakkou, padahal umur sudah cukup besar. "Astagfirulloh." Padahal di belahan kota lain di Jepang, anak-anak muslim beruntung sekali dapat sholat di sekolah Jepang bahkan berjilbab tanpa larangan di sekolah mereka.

Kami kemudian berdiskusi dengan para muslimah. Kami sepakat untuk menyampaikan permohonan ruangan untuk sholat ini ke kepala sekolah. Kudiskusikan baik-baik dengan para volunter tempat aku meminta bantuan. Tak disangka, pertolongan Allah SWT perlahan telah membuka hati mereka.

Volunter yang juga guru lepas shougakkou anak-anak, membatu menterjemahkan permohonan permintaan tempat sholat anak-anak. Tidak ada adu pendapat seperti saat meminta perubahan menu makanan khusus ikan untuk anak kami. Dalam beberapa menit, tempat sholat sudah ditunjukkan. Jam sholat dzuhur ditentukan. Besok pun start awal sholat anak-anak diizinkan. "Allahu Akbar."

Kepala sekolah Shougakkou bahkan meminta maaf pada kami bahwa tidak sejak dulu mereka menyediakan. Alasannya karena belum ada permohonan dari muslim di sini dan terutama karena ketidakpahaman mereka terhadap ibadah umat Islam.

Jalan dakwah kampung kami masih sangat panjang. Masih banyak shukudai (PR) buat kami. Tapi cerah cahaya mulai tampak. Bahkan dari sebuah desa sebelah yang seringkali mengundang makan hasil kebun dan sawah mereka. Tahun ini menu spesial buat kami telah dibuat, non daging. Allahu Akbar!

Robbi, kuatkan kami, rapatkan barisan kami, istiqomahkan kami dan para muslimah semua mohon doa dan dorongan untuk kami di tempat tinggal kami.

Jazakumullah khoir.

-Sepenggal Catatan Jalan Dakwah Kota Kami-
Yayu-Ishikawa
( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. )

Keterangan :
Ochoumen  : Buku Penghubung Guru dan Orangtua
Shougakkou : Sekolah Dasar
Bentou     : Bekal Makanan

Login Form

Pengunjung

Hari ini221
Kemarin392
Minggu ini2444
Bulan ini7510

Currently are 19 guests and no members online

Kontak Kami

Pendaftaran Donasi
  • This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Japan Post Bank
(ゆうちょ銀行)

No. rekening : 13130-16200161
Atas nama:
ファヒマ (Fahima)