All About Inner Beauty...
Sahabat Fahima yg dirahmati Allah, semoga selalu dalam keadaan sehat lahir & bathin. Berikut sedikit materi yg berhasil dirangkum dari acara Taujih Online bersama ustadzah Rita Sukendar, Rabu 29 Desember 2010, yang disiarkan juga melalui Radio Tarbiyah & Radio Pengajian.Kami mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan maupun dalam notulensi kali ini,semoga apa yg sedikit dapat bermanfaat & berkah, menambah wawasan, ilmu & ukhuwwah kita, insya Allah...
Bagi sahabat yg ingin mendengarkan secara lengkap TOL kemarin, bisa mengunduh tautan berikut :
part 1: https://www.yousendit.com/ download/ RlRvTkZpTk1lM1JjR0E9PQ
part 2: https://www.yousendit.com/ download/ RlRvTkZnTXZWRCt4dnc9PQ
part 3 : https://www.yousendit.com/ download/ RlRvTkZpTk1vQUx2Wmc9PQ
part 4 : https://www.yousendit.com/ download/ RlRvTkZpTk01R05FQlE9PQ
part 5 :https://www.yousendit.com/ download/ RlRvTkZrNXY5NVZFQlE9PQ
part 6 : https://www.yousendit.com/ download/ RlRvTkZrNXZxRTFFQlE9PQ
part 7 : https://www.yousendit.com/ download/ RlRvTkZrNXZVbTljR0E9PQ
Jazaakunnallah khairan katsiiraa...
~Bidang Dakwah Fahima~
Sekilas Mengenang Hari Ibu
Pada tanggal 22 Desember 1928 para tokoh perempuan Indonesia berkumpul dalam Kongres Perempuan Indonesia I untuk membicarakan & menyadarkan kembali peran & tanggung jawab perempuan terhadap masyarakat, termasuk keluarganya, juga tentang kemerdekaan untuk melaksanakan prinsip-prinsip hidupnya.
Kini, seiring berjalannya waktu, hakikat dari pembicaraan tersebut pun berlalu, hari ibu hanya menyisakan perayaan-perayaan biasa tanpa esensi apa-apa. Kenyataan menyebutkan, angka kematian ibu di Indonesia adalah tertinggi di Asia Tenggara. Salah satu penyebab utamanya adalah tingkat pendidikan perempuan-perempuan Indonesia yang masih rendah. Ini menjadi PR bersama kita kaum perempuan.
Tentang peranan perempuan dalam masyarakat, saat ini masih ada salah kaprah dalam menyikapinya. Adanya pendapat bahwa perempuan hanya bisa keluar dari 3 tempat, yaitu dari rahim ibunya ketika dilahirkan, dari rumah orang tuanya ketika menikah, dan dari rumah suaminya menuju liang kubur ketika meninggal, sungguh masih memprihatinkan. Juga pendapat lain bahwa urusan perempuan hanya berkutat di 3 “ur” (kasur, dapur, sumur). Peran seorang perempuan tidaklah sesempit itu. Bayangkan jika seorang ibu yang masih terkungkung dengan anggapan tersebut & berpendidikan rendah, bagaimana mungkin ia dapat menjadi madrasah bagi anak-anaknya.
Dalam hal ini kita harus bijak & dapat membedakan bagaimana sebenarnya konsep pemberdayaan perempuan menurut Islam, bukan menurut budaya Arab, budaya barat atau yang lainnya.
Dalam sejarah kejayaan Islam, begitu banyak kisah perempuan-perempuan hebat yang berperan besar tidak hanya di dalam rumah, seperti Aisyah r.a. yang pernah menjadi panglima perang, Asma binti Abu Bakar r.a. yang turut berperan dalam da’wah Rasulullah SAW, dan masih banyak lagi peran perempuan yang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam.
5 Peran / Fungsi Perempuan
Dalam diri seorang perempuan melekat 5 peran, yaitu sebagai hamba Allah, sebagai anak dari orang tuanya, sebagai istri dari suaminya, sebagai ibu dari anak-anaknya dan sebagai bagian dari masyarakat sekitarnya.
Allah SWT memerintahkan kepada ummat manusia untuk berbuat baik kepada orang tuanya, terutama kepada ibunya. Demikian juga sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan keutamaan seorang ibu yang paling berhak mendapat perlakuan baik, 3 kali beliau ulang penyebutan untuk “ibu”. Begitu pentingnya peran seorang ibu/perempuan bahkan dalam pandangan Allah & rasul-Nya.
Mendidik seorang laki-laki adalah seperti mendidik seorang manusia, sedangkan mendidik seorang perempuan adalah ibarat mendidik sebuah bangsa. Darinya & dengan sentuhan tangannya akan lahir manusia-manusia besar, jika ia adalah perempuan yang terdidik & kokoh jiwanya.
Dalam diri seorang perempuan, dari ujung kaki hingga ujung rambut, tersimpan berbagai potensi yang dikaruniakan Allah SWT. Perempuan dapat menjadi inspirasi bagi banyak hal. Potensi yang telah Allah berikan kepadanya harus dapat diarahkan dengan baik, tidak sebaliknya menjadi sumber fitnah & kerusakan baginya & bagi ummat manusia keseluruhan. Keindahannya hendaknya ia persembahkan hanya untuk yang berhak, yaitu suaminya. Kelembutannya adalah kekuatan luar biasa untuk mendidik & membesarkan anak-anaknya.
Kisah-kisah Perempuan yang Menginspirasi
Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim & ibunda Nabi Ismail, menjadi contoh seorang perempuan yg utuh pribadinya. Ia telah tunjukkan ketaatan luar biasa kepada Allah & rasul-Nya, kepatuhan tanpa syarat kepada suaminya, dan pengorbanan serta kesabaran bagi Ismail putranya. Ketika ia menerima dengan lapang perintah Allah kepada Ibrahim a.s. untuk meninggalkan ia & bayi merahnya di padang tandus. Pun ketika Ibrahim yang menemui ia & putranya setelah meninggalkan mereka dalam waktu yang sangat lama, Ismail telah menjelma menjadi seorang anak yang taat kepada ayahnya & memiliki kesabaran luar biasa, sebagaimana diabadikan dalam Al Quran. Tentu ini tak lepas dari didikan & kasih sayang Siti Hajar sang ibunda.
Dan masih banyak lagi kisah perempuan-perempuan yang terabadikan, seperti Ibunda Musa a.s., Maryam ibunda Isa a.s., Aisyah r.a., Ummu Salamah r.a., Asma binti Abu Bakar r.a., dll. Mereka menjadi teladan bagi kita kaum muslimah, tentang apa yang sejatinya disebut inner beauty. Namun sayang, arus ghazwul fikri (perang pemikiran) yang mewabah saat ini telah melahirkan perempuan-perempuan (juga dari kalangan muslimah) yang bernilai tak lebih dari keindahan fisik semata, perempuan-perempuan yang gemar bertabarruj (bersolek, namun tidak untuk suaminya), dan perempuan-perempuan yang menjadi pemuas bagi keperluan komersil dunia. Na’uudzubillaahi min dzaalik…..
Sesi Tanya Jawab
1. Bagaimana agar kita tawazun (seimbang) dalam kegiatan di dalam & di luar rumah ? seringkali seorang ibu yang selalu berkutat dengan urusan rumah merasa jenuh & lebih menikmati ketika beraktivitas di luar rumah. Bagaimana solusinya?
2. Bagaimana adab seorang muslimah yang menuntut ilmu di luar rumah, ketika harus bepergian seorang diri, misal mengikuti konferensi di luar negeri & terkadang harus bersama-sama dengan kaum laki-laki yang bukan mahram ? apa saja batasan-batasannya? khususnya untuk kasus di Jepang yang dirasa sangat aman, hingga para muslimah tdk merasa ada masalah ketika harus bepergian sendiri. Bagaimana sebaiknya ?
3. Bagaimana menyeimbangkan antara inner beauty & kecantikan luar ?
4. Apakah inner beauty dapat menjadi indikasi keimanan seorang muslimah?
5. Seberapa jauh intervensi seorang ibu terhadap anak-anaknya, terutama menyangkut masa depannya ? apa hak ibu terhadap anak-anak yang sudah berkeluarga, baik anak laki-laki maupun perempuan?
6. Bagaimana menyeimbangkan 5 peran perempuan dalam kehidupan sehari-harinya? (Untuk lebih lengkapnya, pertanyaan & jawaban ustadzah dapat disimak pada tautan rekaman di atas)
- Tempat tanggal lahir :13 Maret 1972
- Alamat Rumah :Cimahi-Jawa Barat
- Telepon Rumah :02266*****
- No Hp :08122******
- Status : Menikah
- Nama Suami : Abd.Hakam Mubarak,Lc
- Anak anak : Fauziah Rufaidah, Syifa Nabila, Fauzan Abdul Haq
- Pendidikan :S1
- Pengalaman organisasi :
Login Form
Pengunjung
Kemarin392
Minggu ini2442
Bulan ini7508
Currently are 24 guests and no members online


