Menata Interior Rumah Tinggal di Jepang
Sahabat, kali ini PSDM fahima mempersembahkan artikel tentang Penataan Interior Rumah di Jepang karya Bapak Artbanu Wishnu Aji (DosenFakultas design Interior Institut Seni Indonesia [ISI] yang sedang menempuh pendidikan doktoralnya di Osaka University),
Menata Interior Rumah Tinggal di Jepang
Artbanu Wishnu Aji
Bagi masyarakat Indonesia yang telah terbiasa tinggal di rumah besar dan perabot lengkap, tinggal di Apato Jepang yang sempit dan terbatas merupakan masalah yang cukup menantang terutama bagi mereka yang memiliki banyak anggota keluarga. Keterbatasan ruang dan cara hidup yang berbeda membuat kita harus menyesuaikan penataan rumah tinggal kita agar selaras dengan sifat ruang dan kebutuhan aktifitas sehari hari.
Ruang tinggal atau apato di Jepang sebetulnya memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan ruang tinggal di Indonesia. Kelebihan ini terletak dikapasitas lemari simpan dan fleksibilitas ruang yang mudah diatur. Dua kelebihan ini adalah dasar yang harus kita manfaatkan semaksimal mungkin dalam menata interior ruang tinggal di Jepang.
Prinsip menata ruang tinggal di Indonesia biasanya di dasarkan pada pembagian ruang secara pasti sesuai dengan aktifitasnya. Misalnya kita membuat ruang tidur untuk untuk tidur, ruang makan untuk makan dan ruang tamu untuk tamu. Penataan dengan cara ini membutuhkan jumlah ruang yang cukup untuk mengakomodasi sifat ruang dan aktifitasnya. Ruang yang terbatas jelas tidak memungkinkan untuk memakai system penataan yang kaku tersebut.
Solusi yang dipakai oleh orang Jepang dalam mengatasi masalah ini adalah dengan menerapkan penataan ruang berbasis waktu ( di Indonesia biasanya berbasis ruang ). Sistem penataan berbasis waktu ini pada dasarnya merupakan cara pemakaian ruang secara bergilir, artinya ruang akan berubah fungsi sesuai dengan waktu penggunaannya. Misalnya ketika waktu tidur, ruang berfungsi sebagai ruang tidur dan ketika waktu makan ruang berubah fungsi menjadi ruang makan.
Sistem penataan berbasis waktu ini erat hubungannya dengan pemilihan jenis perabot dan keberadaan lemari simpan dengan kapasitas besar. Dalam memilih perabot usahakan untuk memilih perabot yang fleksibel dan mudah disimpan misalnya meja lipat, kasur lipat atau futon. Perabot perabot yang mudah disimpan akan memudahkan kita mengatur ruang ketika ruang tersebut berubah fungsi sehingga kita leluasa dan hanya membutuhkan waktu singkat untuk mengubah ruang makan menjadi ruang tidur.
Hindari penggunaan perabot perabot besar seperti lemari dan set meja makan agar ruang tersebut tetap memiliki rasio keluasan yang memadai. Bagi masyarakat Indonesia yang terbiasa berkumpul dan menerima tamu, rasio keluasan ini bisa menjadi keuntungan manakala harus mengadakan pesta-pesta kecil atau sekedar berdiskusi bersama.
Satu hal yang perlu diingat system penataan berbasis waktu ini erat hubungannya dengan kedisiplinan terhadap waktu. Sebagai umat Islam hal ini tentu memiliki manfaat ganda karena kita harus senantiasa menjaga “timing” yang ketat agar pemakaian ruang tidak tumpang tindih. Saat sholat ruang makan harus bisa diubah menjadi musholla, itu berarti kebersihan juga harus menjadi perhatian khusus terutama berhubungan dengan remah-remah makanan dan bau masakan yang mungkin tertinggal.
Tanya :
Apakah rumah di Jepang ini sudah termasuk rumah yang sehat?
Jawab :
Rumah di Jepang pada umumnya sudah terstandar. Rumah tradisionalnya memiliki system penghawaan yang baik, dengan adanya bukaan di depan, belakang, dan jendela. Pada saat musim panas rumah dengan mudah mendapat angin dari luar sehingga penghuninya tidak memerlukan AC. Dan saat musim dingin mereka menutup pintu dan jendela, kemudian malam hari mereka menyalakan tungku agar hangat.
Sementara untuk rumah modern, sudah banyak menggunakan alat bantu untuk menjaga kesehatan rumah, misalnya AC di musim panas dan pemanas di musim dingin. Meskipun ada tambahan biaya yang harus dikeluarkan untuk itu.
Tanya :
Bisakah kita mengadopsi rumah di Jepang untuk di Indonesia?
Jawab :
Setiap daerah punya budaya yang berbeda. Masing-masing punya karakteristik sendiri. Untuk mengadopsi modelnya saja mungkin bisa. Tetapi adopsi secara keseluruhan agak sulit. Hal ini juga dipengaruhi oleh prilaku yang berbeda dari orang Jepang dan orang Indonesia. Rumah Jepang dibuat dengan pondasi dan rangka yang kuat, namun bangunan yang agak rapuh. Dinding kayu atau kardus, pintu kertas, dan sebagainya. Namun orang Jepang yang senang dengan kelembutan dapat memperlakukan rumahnya secara lembut pula. Membuka pintu dengan cara khusus, bicara pelan agar tak terdengar ke ruang sebelah, dan lain-lain.
Beda dengan prilaku orang Indonesia yang lebih cocok dengan bangunan padat. Dinding beton, pintu kayu, akan memudahkan penghuni dengan karakteristik orang Indonesia.
Untuk kondisi tertentu, misalnya rumah yang sempit di Indonesia, bisa saja mengadopsi system penataan ruang dari rumah Jepang yang berbasis waktu. Misalnya menggunakan ruang untuk tidur di malam hari, dan ruang makan di waktu siang. Namun tetap ada konsekuensinya, yaitu menjaga ketepatan waktu penggunaan ruang tersebut.
Sehingga model rumah di Indonesia lebih cocok untuk orang Indonesia. Meskipun ada juga yang mengadopsi rumah Jepang, namun hanya sebatas model. Misalnya untuk restoran atau hotel.
Login Form
Pengunjung
Hari ini208
Kemarin392
Minggu ini2431
Bulan ini7497
Kemarin392
Minggu ini2431
Bulan ini7497
Currently are 14 guests and no members online


