Muslimah Bestari Pendukung Ekonomi Keluarga dan Ummat
Bidang Dakwah Fahima tanggal 30 April 2007 kemarin mengadakan TOL
(Taujih Online) bulanan yang mengangkat tema muslimah bestari sebagai
penyokong ekonomi keluarga dan umat. Pembicara kali ini ialah Ibu Alin
Halimatussadiah, seorang ibu dari 3 orang anak dengan beberapa aktivitas
di luar rumah seperti staf epngajar FEUI, Staf peneliti laboratorium
ilmu ekonomi FEUI, wiraswastawa, sekaligus pengajar tahsin majelis
ta`lim Amanah Dault dan pengajian karyawati FEUI.
Muslimah Bestari berasal dari bahasa melayu yang bermakna layak
dihormati, disayangi karena halus budi bahasanya, tulus hatinya, bijak
dan enak dipandang cahaya mukanya. Bagaimanakah peran muslimah bestari
di dalam islam? Berikut rangkumannya.
Secara umum, jenis-jenis aktivitas ekonomi yang dapat diperankan oleh
muslimah dalam keluarga dapat dibagi menjadi dua:
1. Sebagai ibu rumah tangga (RT) yang juga berperan sebagai penata
perekonomian unit terkecil dari umat. Muslimah dapat berperan sebagai
penata alokasi uang RT dengan menyesuaikan antara kebutuhan dan
pengeluaran. Pemilahan pengeluaran yang efektif dari satuan jenis,
jumlah, harga dialokasikan dengan bijak. Aspek2x dalam keuangan RT
menjadi amanah bagi muslimah sebagai manager keuangan dalam RT. Alokasi
uang sesuai kebutuhan, efektif, tidak boros, cerdas dan bijak. Kemampuan
untuk mengatur keseimbangan neraca keuangan keluarga membutuhkan
pengetahuan muslimah yang luas agar seimbang, efektif dan tepat guna.
2. Sebagai pekerja/karyawan/wiraswasta guna menyokong perekonomian
keluarga. Dalam hal ini, islam memperbolehkan seorang muslimah untuk
menambah nafkah keluarga, tetapi tidak dibebankan sebagai kewajiban.
Pekerjaan yang dilakukan pun selayaknya tidak melanggar kodrat
kewanitaan. karakteristik pekerjaan harus diperhatikan, agar organ
kewanitaan dan fisik tidak terganggu. Namun hal yang perlu digarisbwahi
ialah, muslimah tetap mempunyai kewajiban yang utama, yaitu sebagai
pendidik anak dan mengurus suami. Pekerjaan apapun yang dilakukan,
seyogyanya tidak mengganggu kewajiban dan tanggung jawab muslimah
sebagai istri dan ibu di dalam keluarga. Adapun penghasilan yang
didapatkan oleh muslimah, adalah hak priogatif muslimah untuk kemudian
membantu menyokong perekonomian keluarga atau dipergunakan untuk
kepentingan lainnya.
Dari ruang lingkup ekonomi umat terkecil yaitu keluarga, muslimah dapat
berperan. Peran muslimah dalam perekonomian keluarga ini menjadi penting
untuk mendokong perekonomian umat karena beberapa hal dibawah ini:
1. Perekonomian umat saat ini masih sangat rendah. Hal ini dibuktikan
lewat Gross Domestic Product (GDP) kita yang masih rendah dan
terdapatnya ketidakrataan pendapatan dalam masyarakat dan umat.
2. Muslimah dapat menambah nafkah keluarga (walaupun tidak wajib)
3. Mengembangkan kemandirian muslimah Kasus kekerasan dalam RT dapat
bertahan, tidak terungkap, salah satunya karena istri tidak mandiri
secara ekonomi, kemandirian ekonomi bagi muslimah harus dipersiapkan
sehingga muslimah akan selalu siap menghadapi situasi apapun. Misalnya
saat suami meninggal, PHK, dan lain sebagainya. Disamping itu,
kreatifitas muslimah dapat tetap berkembang untuk kemudian dapat
memberikan contoh kepada anak-anaknya, sebagai muslimah yang bekerja
keras.
4. Dapat membantu menjalankan penataan shodaqoh, amal jariyah umat
5. mempunyai kesempatan untuk berdakwah Dengan mempunyai penghasilan
sendiri, muslimah dapat membantu orang lain dari uang hasil kerja
sendiri (100% uang hasil kerja, adalah haknya sendiri). Cara-cara
berdakwah dari segi ekonomi, dapat dilakukan dari segi pengadaaan
barang/jasa, disamping wirausaha sambil berdakwah di segi pendidikan
juga dapat dilakukan. Kontribusi untuk membangun perekonomian umat,
dapat dimulai dari usaha kecil, atau usaha yang sesuai dengan
kapabilitas yang sesuai dengan bidangnya.
Dalam kasus wirausaha, kunci dari kinerja muslimah ialah konsistensi dan
kreatifitas yang tak terhenti. disamping terus belajar dari orang-orang
yang sukses. Perencanaan yang matang dan rinci menjadi modal yang sangat
penting dalam menjalankan suatu usaha. Dalam berusaha, pada prinsipnya
jangan takut gagal. Evaluasi dan perbaikan menjadi faktor yang sangat
penting dalam mengelola sebuah usaha. Memikirkan sebuah usaha yang
mungkin dapat dilaksanakan oleh muslimah. Ayat yang terkait dengan hal
ini terdapat dalam Qur'an surat Al-jumaah ayat 10 yang artinya:
"Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi;
carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu
beruntung".
ayat-ayat yang mendorong agar jangan sampai kemauan kita lemah dalam
mencari rizki Allah SWT juga dapat ditemukan di dalam surat Al-Mulk ayat
15 yang artinya:
"Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka
jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.
Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan".
Dalam kuliahnya tersebut, ibu Alin juga menyarankan kaum muslimah untuk
memberdayakan diri, keluarga dan umat. Beliau juga memberikan beberapa
tips sukses berwirausaha, diantaranya:
1. Jangan Takut gagal
2. Jangan patah semangat. Carilah karunia Allah seluas2xnya
3. Berdoa kepada Allah SWT
4. Tahu prioritas. prioritas kita adalah ibadah. Tujuan mencari uang/
bekerja bukan untuk menumpuk harta, tapi diniatkan untuk ibadah,
sehingga harta yang di dapatkan berkah dan diridhai Allah SWT.
5. Pekerjaan tidak boleh mengabaikan tugas dan tanggungjawab istri.
Prioritas suami dan anak adalah nomor satu. Muslimah yang cerdas akan
selalu mempersiapkan kemandirian perekonomian disamping itu dapat
mendeteksi kemampuan diri dan keluarganya, dapat pula kreatif dalam
meningkatkan sumberdaya dirinya, keluarganya dan potensi2x yang dapat
meningkatkan perekonomian keluarga dan umat.
6. Pekerjaan yang dilakukan diupayakan untuk mendapatkan amal shaleh
Muslimah yang cerdas selayaknya selalu bertakwa dan bertawakkal,
disamping terus beristighfar sebagai bekal untuk mencari kelapangan
rizki. Beliau juga menambahkan rasa syukur sebagai bekal seperti
diungkapkan dalam QS. Ibrahim ayat 7 yang artinya :
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika
kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika
kamu mengingkari (nimat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat"
Adapun pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa pendengar
ialah sebagai berikut:
1. Dari Sholi: Saya paham bahwa jika kita ingin berusaha itu harus
berkesinambungan dan butuh kesabaran. Saya ingin tahu, langkah2 apa saja
dlm menjalankan usaha dan menitinya secara bertahap hingga mencapai
hasil dan terputus di tengah jalan?
2. Dari Ulie: Katanya kita harus semangat, bertebaran mencari rizki
Allah. Bagaimana kalau kita merasa tdk punya bakat utk berdagang...atau
takut investasi krn khawatir rugi, atau ditipu orang, atau
kekhawatiran-kekhawatiran lainnya, bagaimana cara mengatasinya?
Jawaban no.1 dan 2:
Dalam memulai suatu usaha, butuh niat (azzam) yang kuat niat itu akan
muncul dari keyakinan yang kuat keyakinan yang kuat harus dibarengi
dengan tujuan yang jelas. Kaya dapat menjadi motivasi bagi
muslim/muslimah. Keyakinan dan motivasi yang kuat ditambah tujuan yang
benar, di transformasikan ke dalam perencanaan yang matang. Perencanaan
yang matang dan terperinci sangat penting dalam melihat prospek, potensi
maupun celah-celah bisnis yang dapat dilakukan modal dapat berupa uang
dan jaringan, modal juga dapat berupa kreatifitas diri, pengetahuan yang
memadai akan medan yang akan dihadapi, jaringan silaturahim yang kuat,
pembelajaran dari buku-buku maupun orang-orang sukses juga menjadi modal
dalam menjalankan sebuah usaha. Perencanaan juga termsauk perencanaan
menghadapi kegagalan dan kemungkinan tidak berhasil. Kontinuitas dan
konsistensi dalam menjalankan sebuah bisnis menjadi poin penting. Siklus
pembelajaran-Aksi-Evaluasi menjadi sebuah siklus dalam melakukan bisnis.
Bisnis dapat menjadi sebuah alat untuk mengembangkan dan memberdayakan
potensi orang lain.
3. Dari ina di korea : bagaimana mensinergikan potensi bekerja bagi
seorang istri agar mjd tdk kontra produktif bagi pengembangan
potensi"bekerja" bagi suaminya
Jawaban:
Dalam mensinergiskan, perlu mempertimbangkan cara yang optimal, dan
masing-masing keluarga mempunyai caranya sendiri-sendiri. Pemberdayaan
istri dan suami tidak harus sejalan dalam satu bidang, atau bekerja di
bidang yang sama, namun fleksibel dan seimbang dengan mempertimbangkan
aktivitas suami, istri serta alokasi waktu keduanya. Komposisi yang
ideal akan dirasakan dari kerjasama dan kolaborasi dari keduabelah pihak
(istri dan suami). Komposisi yang ideal dan kesinergisan akan tercapai
dengan keseimbangan amanah-amanah dan kewajiban-kewajiban yang terpenuhi
dengan baik. Pengertian dan kerjasama yang baik dalam mensinergiskan
potensi keluarga menjadi dasar yang penting. Istri mempunyai tugas
sebagai pendukung suami, dan suami juga mempunyai kewajiban untuk
mengayomi istrinya.
4. Dari Anisadaffa: sehubungan dengan peranan wanita muslimah sebagai
karyawan atau sebagai pemimpin organisasi? kepemimpinan yang bagaimana
seharusnya dapat dimiliki dan diterapkan oleh wanita muslimah?
Jawaban:
Kepemimpinan wanita yang baik ialah yang sesuai dengan aturan islam.
Muslimah selayaknya membawa sebuah usaha untuk kemajuan umat. Caranya
dapat dengan kontinu dan berkesinambungan belajar dari muslimah di jaman
nabi, belajr dari para sahabat. Point yang utaman ialah kepemimpinan
muslimah, tidak boleh meninggalkan kewajibannya sebagai pemimpin dalam
RT, kepemimpinan yang tidak mengindahkan norma-norma sebagai muslimah
dalam islam.
5. Dari Ulfamasykur: Islam mengajarkan umatnya untuk berusaha memegang
dunia ini (berusaha berhasil dalam dunia usaha ataupun dibidang lainnya)
hanya sampai di tangan saja, tapi jangan sampai dipegang ke hati.
Bagaimana caranya mengaplikasikan teori tersebut?
Jawaban:
Caranya ialah mencari tahu prioritas umat ini. Dari segi mikro dan
globalnya. Ketahui kebutuhan sekeliling kita. Radar kita harus peka
melihat kondisi global maupun mikro, sehingga harta tidak terhenti
memiliki alokasi dalam prioritas-prioritasnya dengan tepat untuk
masyarakat dan umat. Sedekah, infak tidak akan terhenti. Tidaklah harta
seorang hamba akan berkurang karena sedekah.
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
manafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: sertaus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki." (Qs
Al-Baqarah: 261)
Bisnis pada dasarnya ialah memanage segala potensi (dalam diri,
kemampuan orang lain, sumber daya alam, sumber daya apapun) sehingga
menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan pasar. Salah satu kisah
sahabat nabi Abdurrahman bin auf (saudagar kaya raya di mekkah) ketika
hijrah tidak bawa apapun dari rumahnya, tidak mempunyai apapun, namun ia
mencari pasar, dan melihat potensi dalam pasar. Belajar dari orang yang
sukses bagaimana caranya sukses, belajar juga dari orang yang gagal,
mengapa ia gagal. Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Sebelum
berusaha, jangan mundur, upayakan membuat diri lebih berarti bagi diri
dan orang lain.
6. Dari Diana: kalau kita berusaha, pasarnya memungkinkan untuk
mengambil untung yang banyak. dimana batasan kita dapat mengambil untung
yang sebesar2xnya?
Jawaban:
Tidak ada masalah mengambil untung yang maksimal dari upaya masksimal
yang dilakukan dengan hasan. Yang harus diingat ialah selalu meluruskan
niat untuk ibadah, segala upaya yang dilakukan sinergiskan dengan
kepentingan umat. Radar untuk peduli terhadap kondisi umat global dan
local perlu di tingkatkan kepekaannya. Siapkan investasi sejak dini
bukan hanya berupa uang, tapi dalam bentuk membangun kapasitas diri,
dalam bentuk modal ilmu dan uang disamping terus berkreasi dan
berinovasi. Maju bersama membangun umat dan negeri dengan sinergis,
tingkatkan daya dukung kita. Berupaya, belajar, bulatkan tekad, saling
menyemangati untuk selalu termotivasi peduli dan berkontribusi untuk
umat ini. Hati dan akal yang selalu dipakai akan menjadi tajam untuk
berlomba-lomba dalam amal dan takwa.
br /br /br /
Login Form
Pengunjung
Kemarin392
Minggu ini2431
Bulan ini7497
Currently are 30 guests and no members online


