Rumahku Syurgaku
Rumah adalah tempat berteduh bagi setiap individu dalam keluarga dari kesibukan di luar. Di dalamnya menjanjikan sejuta kedamaian dan kasih sayang yang harmonis. Islam sebagai dien sempurna yang mengatur bagaimana mewujudkan kebahagiaan ini, menciptakan rumah sebagaimana slogan "Baiti Jannati' [Rumahku, Surgaku]. Rumah yang didalamnya ditemukan kedamaian, kasih sayang dan rahmat dari Illahi, laksana sebuah surga di dunia.
Ada 10 hal penting yang harus dijadikan panduan dalam menata rumah islami, sebagai berikut.
Berpikir Positif
“Hounto ni dekimasu ka?” Seorang teman memandang saya dengan tidak percaya ketika saya berusaha melakukan sesuatu yang dianggapnya tidak sesuai dengan kemampuan saya. Pikiran negatif semacam itu sering kali hinggap dalam kepala kita ketika kita dihadapkan dalam situasi yang menurut sebagian besar orang terlampau sulit untuk kita jalani. Renungkanlah, berapa sering kita berpikir seperti ini, “ Saya merasa tidak akan sanggup melewati ini, masalahnya terlalu berat, kerusakan yang terjadi begitu banyak, saya akan gagal.” Pikiran negatif yang sering kali merusak daya juang kita, sehingga kita kalah sebelum bertanding, menyerah sebelum melakukan usaha terbaik yang dapat kita lakukan.
Seorang muslimah muallaf Jepang, berusia lebih dari 50 tahun, dalam waktu 3 tahun sudah lancar membaca Al-Qur’an di sertai dengan tajwid yang baik. Itu dapat terjadi karena ketekunannya mengikuti program iqro’ sepekan sekali dan usaha yang sungguh-sungguh berlatih di rumah. Padahal, pengucapan laval bahasa Arab merupakan sesuatu yang sulit untuk orang jepang kebanyakan dan juga untuk kita yang terlahir sebagai muslim.
Kasus lain yang pernah saya dapatkan, seorang teman pada awalnya merasa tidak PD dengan kemampuannya berbicara di depan orang banyak. Harus berulang kali mendorongnya untuk melakukan hal itu. Ketika ia akhirnya mau mencoba, ia terkejut dengan kemampuannya sendiri. Ternyata, dengan persiapan yang matang, dia mampu menyampaikan apa yang ia pikirkan dengan baik. Satu kesuksesan yang merubah cara pandangnya terhadap kemampuannya.
Sering kita tidak mengetahui, bahwa kemampuan kita jauh melebihi apa yang kita pikirkan selama ini, dan dalam kondisi terpaksa, kemampuan itu ternyata keluar dan mengejutkan kita. Contohnya seorang teman yang suaminya tidak mendapat beasiswa di Jepang, berusaha mencari kerja untuk sekedar menyambung hidup keluarga yang memiliki dua anak balita ini. Dia muslimah, berjilbab, dengan dua anak yang masih membutuhkan perhatian penuh. Awalnya tidak ada yang percaya dia akan mendapatkan pekerjaan dengan tetap mempertahankan jilbabnya. Selain itu, mengikuti gaya kerja orang Jepang yang sangat ketat dalam masalah waktu dan kerasnya jenis pekerjaan membuat setiap orang Indonesia, bahkan yang lelaki pun, banyak mengeluh tidak sanggup menjalaninya. Tapi ternyata muslimah ini sanggup melakukannya, dan tetap menjalankan amanahnya, sebagai ibu rumah tangga dan juga sebagai staff di salah satu organisasi muslimah di jepang, dengan baik. Itulah hasil dari berpikir positif. Saya pasti mampu, saya akan mencobanya, saya tidak akan menyerah sampai titik juang terakhir.
Rasa percaya diri seseorang, sadar atau tidak, sangat dipengaruhi oleh positif atau negatifnya ia dalam memandang kehidupan. Dan cara pandang ini juga lah yang membuat seseorang itu aktif atau pasif, antusias atau tidak dalam menjalani kehidupan. Kalau kita perhatikan di sekitar kita, banyak sekali kita menemui dua tipe ini. Ada orang yang selalu bersemangat, begitu gembira memandang hidup, selalu bersemangat mengatasi masalah-masalah yang ada di hadapannya. Orang seperti ini memiliki energi positif yang dipengaruhi oleh cara pandangnya yang positif terhadap sesuatu. Bandingkanlah dengan orang yang selalu mengeluh, selalu bersedih, semua hal yang dialaminya dinilai secara negatif. Orang semacam ini dipenuhi oleh energi negatif yang dipengaruhi oleh cara pandang yang negatif terhadap kehidupan.
Lalu, apa yang membuat seseorang bisa memiliki pola pikir yang positif?
Pola asuh orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan pola pikir positif ini. Mungkin sering kita melarang anak kita yang ingin melakukan sesuatu, dengan cara seperti ini, “ jangan, kamu tidak bisa, masih kecil”, atau “Jangan, bahaya, nanti kamu jatuh”, atau banyak larangan-larangan lain yang sebenernya merupakan wujud kekhawatiran kita, namun ternyata kalau kita selalu melakukannya, akan membentuk konsep diri yang negatif pada anak..saya tidak bisa, saya masih kecil, saya pasti jatuh kalau naik ke atas meja. Akhirnya anak memandang dirinya orang yang tidak mampu melakukan sesuatu dan anak belajar untuk menjadi tidak berdaya dalam menghadapi kehidupan. Mungkin kalau kita melakukan larangan dengan cara yang berbeda, akan berdampak sebaliknya, misalnya” Hati-hati ya nak, Meja itu masih terlalu tinggi untuk kamu, nanti jatuh kalau naik ke atas,” atau “ Nanti kalau kamu sudah lebih besar, ibu yakin, kamu bisa melakukannya..sekarang jangan dulu ya..”. Sering juga kita mendengar orang Jepang menyemangati anaknya dengan cara “ Ganbatte ne, ki o tsukete kudasai…” kata-kata yang menantang harga diri anak untuk bisa melakukan hal yang terbaik yang bisa ia lakukan.
Hal lain yang mempengaruhi cara pandang seseorang adalah feedback dari lingkungan, seperti guru atau orang dewasa di sekitarnya atau teman. Sering kali lingkungan kita tidak bisa mentolerir suatu kesalahan yang dibuat oleh seseorang. Padahal kesalahan itu adalah sesuatu yang lumrah dan biasa terjadi pada setiap orang, apa lagi kalau ia masih kecil. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar, tidak ada seorang pun yang tidak pernah berbuat salah, namun lingkungan sangat menentukan apakah proses belajar ini akan diteruskan ketika seseorang berbuat salah atau berhenti karena dihujat, dicemooh atau diasingkan dari pergaulan. Di zaman Rosulullah, ada orang yang melakukan kesalahan, lalu dihukum, kemudian kembali beraktivitas di dalam masyarakat seperti biasa.
Hal terakhir yang paling penting dalam mempengaruhi pola pikir seseorang, adalah keimanan. Ya, keimanan. Di dalam Al-qur’an, disebutkan bahwa kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah (QS: 39:59, 12:87), masih ada waktu untuk memperbaharui diri, menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dalam hadist di sebutkan, segala sesuatu itu baik bagi setiap muslim, kalau yang menimpa dirinya adalah suatu musibah, maka ia berpikir positif bahwa yang ia alami adalah ujian, dan ia bersabar dan berusaha mengatasinya. Bila yang ia alami adalah kesenangan,?maka ia bersyukur dan berusaha untuk menjadi muslim yang lebih baik agar Allah menambahkan nikmat untuknya. Jadi, berpikir positif ini adalah masalah keimanan, yang membuat seorang muslim selalu aktif bergerak dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Berikutnya ada beberapa tips agar kita bisa selalu berpikir positif,
1. Kuatkan komitmen. Komitmen untuk meningkatkan keimanan, komitmen untuk selalu belajar, komitmen kepada keluarga, teman dan mahluk Allah yang lain. Hargai diri sendiri dan orang lain, impikan kesuksesan, dan bersemangatlah.
2. Tetaplah melakukan kontrol diri. Fokus pada hal-hal penting, tetapkan tujuan dan prioritas. Bayangkan lah sesuatu sebelum berbuat, misalnya, bila kita akan berbicara di depan orang banyak, bayangkanlah kita sedang berada dihadapan mereka, bayangkan apa yang kita bicarakan sesuai dengan apa yang kita rancang, bayangkan pertayaan-pertanyaan yang mungkin diajukan, dengan begitu kita menyiapkan kesuksesan. Belajarlah untuk rileks, nikmati kesuksesan, dan jujurlah dengan diri sendiri.
3. Berubahlah, dan tingkatkan kualitas diri setiap hari. Misalnya dalam hal ibadah kita, sudahkah ada peningkatan kualitas dan kuantitas dalam bacaan qur’an kita, sholat-sholat sunnah kita atau adakah kebiasaan baik baru yang sudah kita lakukan jika dibandingkan setahun lalu. Lakukan yang terbaik dan janganlah selalu melihat ke belakang.?Pandanglah belajar dan berubah sebagai sesuatu tantangan. Cobalah hal baru, pertimbangkan berbagai pilihan, temuilah hal-hal baru, banyaklah bertanya tentang sesuatu yang kita tidak tahu, jagalah kesehatan fisik dan mental kita, optimislah.
* Hounto ni dekimasuka? : apa benar, kamu bisa?
* Ganbatte ne : selamat berusaha ya
* Ki o tsukete kudasai : hati-hati ya
Sumber:
1. Al-Qur’an
2. Hadist
3. http://www.marin.cc.ca.us/~don/Study/2positive.html
Shubuh Terindah di Masjidil Haram
Hujan gerimis mulai turun. Udara agak sedikit dingin. Ku tengadahkan kepala melihat ke langit yang masih gelap. Waktu belum memasuki shubuh. Namun para jemaah mulai sesak memenuhi rangkaian shaf sholat pagi ini. Inilah pagi pertama, diriku dan suami menikmati indahnya menanti saat-saat shubuh di Masjidil Haram. Adzan pertama sebagai tanda waktu shubuh sudah dekat telah dikumandangkan. Sengaja kami dan beberapa teman lainnya yang satu group mengambil lantai 3 sebagai tempat sholat shubuh. Alasannya, karena ingin sekali bisa menikmati waktu shubuh beratapkan langit di masjidil haram dan ada terbesit keinginan, melihat jutaan jamaah yang tawaf di lantai 1 sana. Namun keinginan melihat putaran jamaah yang tawaf di lantai 1mesti kami urungkan, karena rupanya orang-orang yang melakukan tawaf di lantai 3 pun tak kalah padatnya, bahkan menjelang sholat shubuh di mulai. Hem..barangkali karena haji kali ini jatuh di hari jum’at, yang orang-orang lebih mengenalnya dengan haji akbar. Sehingga menjelang hari H-nya jamaah sudah sedemikian padat .
Hujan gerimis pagi itu begitu ku nikmati. Ups..bukan hanya diriku, tapi semua orang tidak ada yang sedikitpun beranjak dari duduknya untuk menghindari gerimis hujan ini. Konon katanya memang hujan di daerah Arab itu cukup langka, maklum karena di sana banyak padang pasir. Alhamdulillah, saat itu aku bisa merasakan hujan di Masjidil Haram. Hujan adalah rahmat dari Allah SWT, untuk itulah begitu indah rasanya merasakannya membasahi kepala ini ketika berada di masjidil haram. Sampai akhirnya adzan shubuh berkumandang. Hujan pun berhenti. Orang-orang yang tawaf mulai berhenti dan mengambil tempat sholat, namun masih ada juga yang melanjutkan tawafnya. Samar-samar suara ramai cicit burung terdengar, makin lama makin ramai. Subhanallah…rupanya merpati-merpati itu beterbangan di atas kami. Juga burung-burung kecil yang dengan indahnya bertasbih di Baitullah ini. Ya Allah indah sekali….
Iqomat berkumandang. Dan Imam Syeikh Suraim mulai memimpin sholat. Ya Allah…sungguh hati ini tak percaya, adakah ini mimpi. Aku berada di rumahMu, menikmati indahnya shubuh pagi ini. Imam membaca surat Ar-Rahman dalam dua rakaat sholat shubuh. Imam membacanya sambil menangis, namun suaranya tetap jelas. Suara itu mengingatkanku pada suara yang sangat ku kenal lewat kaset murottal dan internet. Kini aku bisa langsung mendengarnya. Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzibaan….Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan. Ya Rabb..ampunilah aku…tak kuasa aku mendengar ayat demi ayat surat Ar-Rahmaan yang sedang dibacakan.
Jadikanlah hambaMu ini, hamba yang pandai bersyukur dan bukan hamba yang kufur akan nikmatMu….
***
Mekah adalah tanah haram, negeri yang paling dicintai Allah SWT dan juga RasulNya SAW. Kiblatnya kaum muslimin dan dambaan hati mereka, tempat mereka melakukan ibadah haji, juga tempat mereka berkumpul. Allah SWT telah mengukukuhkannya sebagai tanah haram yang dihormati, sejak langit dan bumi diciptakan.
Disana ada Ka’bah tempat ibadah kepada Allah SWT yang pertama di muka bumi. Baitul ‘Atiq diberikan Allah kemuliaan dan keharaman.Didalamnya terdapat rasa aman bahkan dengan larangan memotongnya, burung-burung tidak boleh diusir dan Allah memberikan pahala amal kebaikan di dalamnya lebih utama daripada pahala amalan di tempat lain.
Shalat di dalamnya sama dengan 100.000 (seratus ribu) kali shalat di tempat lain. Juga karena keagungan dan kehormatan ka’bah, Mekkah menjadi agung dan dihormati. Terlebih karena adanya rasa aman didalamnya di saat Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran : 97
“Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia.”
Allah SWT bersumpah dengan negerinya ini untuk menunjukkan kebesaran martabatnya. Dia berfirman dalam surah Al-Balad : 1
“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini ( Mekkah ).”
Di sana Rasulullah SAW bersabda ;
“ Demi Allah, sesungguhnya engkau (Mekkah) adalah bumi Allah yang paling baik dan tanah yang paling dicintai Allah, andaikan aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu.” (HR. Ahmad jilid 4 hal 13; HR Tirmidzi no.3295; HR. Ibnu Majah no.3168 dari Abdullah nin ‘Ali Hamra dan di shahihkan oleh Al Bani).
Diriwayatkan dari Ka’ab, Rasulullah SAW berkata : “Allah SAW memilih negeri-negeri, maka negeri yang paling dicintai Allah SWT adalah negeri Al-Haram.”
Mekkah, Desember, 2006
( Tambahan materi diambil dari : Terjemahan dari buku Sejarah Mekkah Al Mukarramah Penulis : Syaikh Shafiyur Rahman Al-Mubarak Furi)
Oleh-oleh dari sudut toko buku di samping kiri Masjidil Haram
Pelajaran Berharga dari Oyuugikai
Ada suatu acara.di TKnya Faisal, anak sulungku yang waktu itu
berusia lima tahun. Namanya Oyuugikai. Aku penasaran seperti apa
sih acara itu. Kalau aku bertanya kepada Faisal, dia hanya mengangkat
bahu sambil meneruskan permainannya. Hanya kadang-kadang kudengar ia
menyanyikan lagu Mata Aeru Hi Made disela-sela permainannya. Ooh,
mungkin di acara Oyuugikai nanti ia akan menyanyikan lagu tersebut,
pikirku.
Tidak berhasil dengan Faisal, giliran suamiku yang ketiban
pertanyaan,
"Bang, acara Oyuugikai itu seperti apa sih ?"
"Semacam acara pentas seni," jawab suamiku pendek.
Ooh. Berarti akan ada tari-tarian dan nyanyian, pikirku.
Hari yang kunanti itupun tibalah. Kami berangkat secara full
team, yaitu aku, suamiku, keempat orang anak kami serta kedua orang
tuaku yang kebetulan sedang ada di Jepang. Acara itu berlangsung di
aula TK Musashi, Tsurugashima, Saitama, Jepang. Walaupun tidak
terlalu besar, kira-kira tiga kali ruangan kelas biasa, ternyata aula
itu mampu menampung para orang tua murid. Beberapa hari lalu aku
membaca pengumuman bahwa acara Oyuugikai ini berlangsung selama dua
hari. TK Musashi yang memiliki lima belas kelas itu dibagi menjadi
dua kelompok. Kelas Himawari, kelasnya Faisal kebagian jadwal pada
hari kedua.
Tidak seperti di Indonesia di mana penontonnya duduk di kursi, di
sini para penonton disediakan tempat di lantai. Mereka membawa
sendiri alas duduk dari rumah, ada yang membawa tikar, bantal duduk,
bahkan ada yang membawa futon kecil untuk anaknya yang masih balita.
Wah, heboh banget nih persiapannya, kayak mau piknik aja. Tapi
okelah, maksudnya kan biar nontonnya bisa lebih khusyuk dan nggak
keganggu kaki yang dinginlah, pinggang yang pegallah, maklum dong,
lantai itu kan dingin dan keras, hehehe?
Acara tepat dimulai tepat jam delapan pagi. Karena kami datang
hanya beberapa menit sebelum jam delapan, maka hanya tersisa sedikit
tempat di deret paling belakang. Terpaksa kami menyebar. Tapi
meskipun kami di deretan paling belakang, untungnya kami bisa melihat
ke panggung dengan jelas, tanpa terganggu oleh penonton lain yang
hilir mudik, atau terganggu oleh fotografer kagetan. Maklum di negara
maju, orang-orangnya saling pengertian dan tidak mau mengganggu orang
lain. Jadi para penonton bisa menikmati acara tersebut dengan nyaman.
Bagi orang tua yang ingin memotret anaknya pergantian tempat dilakukan
pada saat hendak berganti acara. Memang daftar acara sudah dibagikan
sehari sebelumnya sehingga orang tua murid mengetahui dengan pasti
pada urutan kle berapa dan jam berapa anaknya akan tampil. Wah,
wah,salut deh.
Acara demi acara berlangsung dengan tertib dan teratur. Acara
terdiri dari tari-tarian, paduan suara, pementasan drama dan konser
musik. Untuk jenis tari-tarian, selain tarian tradisional, juga ada
tarian kontemporer. Sedangkan paduan suara, seluruhnya dibawakan oleh
murid-murid nen-cho, jika di Indonesia setingkat dengan TK B.
Menurutku sebetulnya lagu-lagu tersebut juga dipersiapkan untuk wisuda
pada bulan Maret nanti, karena temanya seperti perpisahan, bahagianya
berkawan, dan lain sebagainya. Seperti lagu yang dibawakan oleh kelas
Himawari berjudul Mata Aeru Hi Made. Dari judulnya saja sudah bisa
ditebak kalau itu lagu tentang perpisahan. Mendengar lagu itu
dinyanyikan dengan sangat syahdu, ada sesuatu yang terasa panas di
mataku, dan segera saja bulir bening mengalir di pipi. Aku terharu
karena selama Faisal bersekolah di TK Musashi, semua kawan-kawan
Faisal dan juga Mika Sensei sangat baik kepada Faisal, walaupun kami
orang asing di sini. Aku pernah mendengar Mika Sensei mengatakan
tentang Faisal kepada anak-anak Himawari, "Walaupun Faisaru-kun
berasal dari negeri yang jauh, dia sama saja seperti kita." Yang mana
pada saat itu aku berusaha menghapus titik-titik air mata dengan
diam-diam.
Untuk pementasan drama, sebagian besar didominasi oleh
dongeng-dongeng klasik, seperti karya H.C.Andersen, Grimm, dan
lain-lain. Walaupun ada juga cerita-cerita lokal tentang nelayan,
petani, oni (hantu) dan lain sebagainya. Terus terang aku baru
pertama kali menonton drama yang dimainkan oleh anak-anak secara
langsung. Selama ini hanya melalui layar kaca saja. Menurutku
bermain peran ini sangat baik bagi anak-anak. Karena selain melatih
anak untuk menghapal dialog, juga melatih anak untuk bekerja sama
dalam tim. Sejujurnya, aku kagum dengan kefasihan anak-anak itu dalam
menghafal dialog. Ini tentu tidak terlepas dari peran para ibu guru
yang sudah melatih mereka selama berbulan-bulan. Hal mana telah
membuka mataku, bahwa segala sesuatu yang direncanakan dengan matang
dan dipersiapkan dengan baik tentu akan membuahkan hasil yang baik
juga.
Satu-satunya yang sangat disayangkan adalah kemampuan bahasa
Jepangku yang sangat minim. Sehingga aku kurang mengerti
dialog-dialog yang diucapkan. Begitupun syair-syair dalam paduan
suara. Namun aku cukup menikmati faktor-faktor pendukung seperti
kostum para pemain yang lucu dan berwarna cerah. Selain itu aku juga
menikmati setting panggung yang menarik. Seperti pada tarian Sakura,
misalnya Setting panggung terdiri dari pohon sakura dengan bunganya
yang sedang berguguran. Sungguh syahdu !
Drama pertama yang dimainkan oleh anak-anak Himawari berjudul Aoi
Tori (Burung Biru). Dongeng klasik ini berkisah tentang pencarian
burung biru ke negeri Omoi De Ne Kuni. Satu persatu teman-teman
anakku bermunculan di pentas. Ada Yuu Netsuke-kun, Nana-chan,
Masahiro-kun, dan lain-lain. Lho anakku kok nggak muncul-muncul ya,
jangan-jangan nggak ikutan main, pikirku. Ternyata anakku muncul di
akhir acara. Bersama tiga orang kawannya, dia berperan sebagai
zettaku, yang membawa-bawa peti. Aku kurang mengerti apa fungsi
zettaku di dalam cerita itu. Terus terang aku agak kecewa dengan
perannya itu, karena dia tidak mengucapkan sepatah dialogpun. Dia
hanya menari saja. Yah, naanya juga pemain figuran. Jadi perannya
cuma selintas lalu saja. Aku berusaha menghibur diri, mungkin karena
Faisal bahasa Jepangnya belum begitu lancar, takut kalau dikasih
dialog yang panjang-panjang, takut nggak hapal.
Oya, selama acara berlangsung, tidak ada penonton yang ngobrol
atau tertawa-tawa. Semuanya khusyuk menyimak acara demi acara dengan
tertib. Aku agak heran dan membandingkan dengan keadaan di Indonesia.
Kalau di tanah air, biasanya ibu-ibu bikin arisan sendiri, alias
ngerumpi dan berisiknya minta ampun. Sehingga orang yang mau menonton
jadi terganggu. Belum yang hilir mudik keluar masuk. Rahasianya
ternyata kuketahui ketika aku ingin buang air kecil. Saat itu di luar
ramai sekali. Banyak yang mengobrol dan tertawa-tawa. Ah, ternyata.
Rupanya bagi mereka yang ingin mengobrol dipersilakan ke luar, jadi
tidak mengganggu penonton yang lagi khusyuk menonton.
Drama kedua yang dimainkan oleh kelas Himawari berjudul Kobito no
Kutsu-ya. Ini adalah kisah sepasang Kakek Nenek pembuat sepatu.
Mereka memberikan sepatu yang sangat bagus kepada gadis miskin yang
kedinginan. Di malam hari, para kurcaci datang membantu membuatkan
sepatu karena kasihan kepada Kakek dan Nenek itu. Keesokan harinya
datanglah raja dan ratu ke kediaman mereka, membeli sepatu dan
memberikan uang yang banyak kepada Kakek dan Nenek. Kakek dan Nenek
pun berbahagia.
Kira-kira satu jam sebelum pementasan Kobito no Kutsu-ya, aku
melihat Ibu-ibu orang tua murid kelas Himawari, menyebarkan foto-foto.
Aku penasaran. Ketika sampai pada giliranku, ternyata foto-foto itu
adalah foto-foto anak-anak Himawari gumi dalam kostum drama. Mungkin
beberapa hari sebelumnya telah diadakan gladi resik dan saat itulah
foto-foto ini diambil. Nampak Faisal dalam kostum zettaku, berpose
bertiga dengan temannya, Rio-kun dan Masahiro-kun yang sama-sama
berperan sebagai zettaku. Juga ada Faisal dalam kostum?ei, napaknya
seperti seorang raja.
"Bang, ini kok seperti pakaian raja ya," bisikku pada suamiku.
"Iya, ini emang pakaian raja," balas suamiku. Berarti dalam
Kobito no Kutsu-ya anakku berperan sebagai Raja? Entah kenapa
tiba-tiba hatiku menjadi galau. Raja?anakku berperan sebagai raja!
Anakku mendapat peran utama! Peran yang bergengsi. Peran yang
mungkin diimp-impikan oleh anak-anak lain. Tapi aku, aku, ibunya,
tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Ada segurat sesal menggores
dadaku. Kenapa aku tidak tahu menahu tentang peran-peran anakku.
Padahal acara Oyuugikai ini telah dipersiapkan cukup lama. Sebegitu
cuekkah aku tentang perkembangan sekolah anakku? Sebagai seorang ibu,
seharusnya aku mengetahui segala perkebangannya di sekolah. Tapi
ini?Dan ketika kelas Himawari gumi tapil dalam Kobito no Kutsuya, aku
menontonnya dengan perasaan gamang. Seharusnya aku bangga dengan
perannya itu. Namun buncah kebanggaan itu tertutup oleh rasa sedih
karena perasaan telah mengabaikan anakku. Kesedihanku kukemukakan
pada suamiku,"Duh, kita kok bisa nggak tau ya?. Suamiku mencoba
menghibur,"Yah, mungkin dia malu, takut ditertawakan,". Sepanjang
perjalanan pulang, aku melangkah dengan gontai. Untuk selanjutnya, hal
seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Aku harus memperhatikan anakku,
sesibuk apapun aku.
Catatan kaki :
Mata Aeru Hi Made : sampai berjumpa lagi
Tungkop, Juni 2007
Bagaimana Islam Bisa Membuat Saya Bahagia?
“ Saya ingin sekali segera masuk Islam, tapi saya masih mencari jawaban, bagaimana Islam bisa membuat saya tenang ketika saya punya banyak masalah?”tanya Yuriko dengan bahasa Indonesia yang tersendat-sendat, namun cukup mudah dimengerti.
?ari itu adalah hari pertama pertemuan kami dengannya. Saya dan Maryam, seorang mualaf muslimah Jepang, menyambut kedatangannya di ruang muslimah mesjid. Saat itu Yuriko datang bersama seorang kenalannya yang lain, Ishikawa. Sebelumnya ishikawa sudah beberapa kali hadir di pertemuan itu Dia seorang wanita jepang yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar yang juga tertarik dengan Islam.
Yuriko sudah tiga tahun mempelajari bahasa Indonesia secara otodidak. Ketertarikannya pada Islam tidak hadir secara tiba-tiba. Dia tertarik dan ‘iri’ dengan cara beribadah orang muslim yaitu sholat. Yuriko sangat senang melihat orang melakukan sholat. Dia melihatnya, sholat sebagai media untuk bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Dan itulah yang dia butuhkan.
Dia bercerita, bagaimana orang jepang berada dalam kebingungan aqidah yang cukup parah. Ketika lahir, setiap bayi orang jepang di bawa ke Otera, tempat ibadah agama budha. Di sana di beri do’a-do’a dan nama. Kemudian setelah dewasa, maka orang jepang berduyun-duyun menikah di gereja dengan dinikahkan oleh pendeta. Dan ketika meninggal dunia, dipastikan semua orang jepang akan dibawa ke jinja, tempat ibadah agama Shinto, untuk di kremasi menjadi abu. Ketika semasa hidup banyak masalah, sake dan wine menjadi pelarian. Orang jepang yang sangat modern, ternyata masih sangat yakin akan jimat (omamori), hingga di mobil, rumah, tas, semua di gantungkan jimat dengan aneka maksud dan keinginan. Kehidupan mabuk, berjudi, sibuk dalam roda rutinitas kerja, kehidupan bermasyarakat yang dingin, membuat sisi lain kehidupan orang jepang yang sangat menyedihkan.
Dalam menjelaskan kebutuhan akan Tuhan, agar mudah ia pahami, saya coba membuat sebuah perumpamaan untuk yuriko. ‘Seandainya, kita berada di atas pesawat terbang, dan saat itu pesawat sedang berada di atas angkasa. Kemudian tiba-tiba ada masalah dengan pesawat dan semua orang di dalam situ yakin bahwa sebentar lagi pesawat bisa saja jatuh. Nah percayakah yuriko, bila dalam hati setiap orang di dalam pesawat itu pasti akan berkata, ‘Tuhanku, tolonglah saya!’ ‘
Yuriko mengangguk cepat. Dia mengatakan, pasti semua orang di dalam pesawat itu akan minta tolong pada Tuhan, walau itu hanya terucap dalam hati.
‘Ya..sekalipun dia bukan seorang muslim!’ sahutku cepat.
Begitulah…Allah SWT menciptakan sifat fitrah manusia yakni mengakui adanya Tuhan, membutuhkan pertolongan Tuhan dalam setiap sisi kehidupannya. Bagi seseorang yang belum menemukan Tuhan yang sebenarnya maka ia akan terus mengalami kegelisahan dan kebingungan dalam pencariannya. Sebagian beralih pada jimat-jimat, sekte-sekte agama, yang kesemuanya menyisakan tanda tanya dan kegalauan jiwa yang semakin menjadi-jadi.
Dalam Islam, sifat fitrah ini semakin di asah. Pencarian akan Tuhan telah berakhir. Allah SWT lah satu-satunya Tuhan. Bagaimana Allah SWT menciptakan manusia dan menentukan aturan hidup manusia. Semua itu haruslah menjadi sumber keyakinan yang mengakar kuat di hati setiap muslim. Inilah yang dinamakan iman. Percaya dan yakin akan Allah SWT sebagai Rabb Pencipta, sebagai Pembuat Aturan, dan sebagai Raja diatas segala raja.
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhan (Rabb)mu?? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi?. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ?Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini (keesaan Tuhan)." (QS. Al A'raf: 172).
Setelah Iman terpatri dalam hatinya, keyakinan dan percaya akan kekuasaan Allah SWT telah menghujam kuat dalam dirinya, maka saat itulah ibadah menjadi terasa sangat mudah dan menyenangkan. Tidak ada lagi ibadah yang terasa berat. Sholat lima waktu akan terasa indah, ditambah dengan ibadah-ibadah sunnah lainnya. Shaum menjadi mudah dan ni’mat. Zakat akan dengan ringan di tunaikan. Tiada lagi rasa berat, rasa merugi ketika ibadah- dan perintah Allah di lakukan begitupun ketika laranganNya harus di jauhi dengan ringan hati.
Saat itulah sholat bisa menjadi pencegah seseorang berbuat maksiat. Pada waktu itulah sedekah menjadi penolak bala. Semua itu adalah buah kemanisan dari Iman.
Memasuki Islam sangat mudah. Tidak berat seperti yang dibayangkan. Karena semua itu lahir dari pengakuan batin, penerimaan utuh akan Allah SWT dan Islam secara keseluruhan. Setiap muslim diberi jalan oleh Allah SWT untuk menjadi dekat bahkan lebih dekat daripada aliran darahnya. Di situlah setiap manusia punya media untuk mengadu, menangis, mengharap, memohon kepada pemilik segalanya, Allah SWT. Inilah kunci kebagiaan yang ditawarkan Islam.
Semua pertanyaan dalam masalah kehidupan akan ‘clear’ terjawab dalam islam. Kehidupan manusia dalam Islam bukan sebatas usia di dunia, namun ada kehidupan akhirat yang lebih abadi. Dan Allah SWT telah menjanjikan kebahagiaan dan kesenangan di akhirat nanti bagi siapapun yang memiliki iman sebenarnya dalam hati. Ketenangan dalam hidup di dunia dan kebahagiaan di akherat. Itulah balasan dari Allah SWT. Subhanallah…Ketenangan hidup karena memahami bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini adalah takdirnya yang tentu sudah menjadi pilihan yang terbaik dari Allah SWT. Dia hanya meminta kita untuk berusaha dan berdoa, apapun hasilnya sama sekali bukan kita yang menentukan. Bila sudah seperti ini, apalagi yang terasa berat dalam hidup ini? Inilah kunci kebahagiaan bagi seorang muslim.
Sore itu, dengan diskusi yang cukup panjang, perbincangan kami berakhir. Dengan hempasan napas yang cukup berat, seperti hendak melepaskan beban yang cukup berat, Yuriko tersenyum. Ia merasa sudah mendapatkan jawaban dari semua kegalauan hatinya. Selanjutnya ia meminta izin melihat kami semua melakukan sholat berjamaah. Kebetulan saat itu adzan maghrib sudah menggema. Semoga saja Allah SWT menurunkan hidayahNya di sela-sela hatimu yang gersang dan menyiramu hausnya hatimu dalam pencarian.
Biidznillah…
Terajima, Maret 2007
Ervin Hidayati
Login Form
Pengunjung
Kemarin392
Minggu ini2418
Bulan ini7484
Currently are 19 guests and no members online


